"We were created to glorify God and to enjoy Him forever ..."

Saturday, April 21, 2007

Manusia Setengah Dewa

Mazmur 58

“Sungguhkah kamu memberi keputusan yang adil, hai para penguasa? Apakah kamu hakimi anak-anak manusia dengan jujur?” (Mzm. 58:12)

Masih terniang di telinga kita salah satu lagu yang dinyanyikan oleh Iwan Fals, berjudul “Manusia Setengah Dewa”. Lagu ini sempat menjadi sorotan publik, karena dituntut oleh salah satu agama di Indonesia yang dinilai melecehkan agama tersebut. Namun, bukan masalah ini yang mau saya soroti. Yang perlu kita lihat adalah isi lagu ini, yaitu suara hati rakyat terhadap penguasa (sang Presiden yang baru), supaya memperhatikan rakyat dan menegakkan keadilan. Bahkan, begitu langkanya hal tersebut, sampai-sampai jika sang Presiden baru itu bisa mewujudkan suara hati rakyat, maka akan dijadikan manusia setengah dewa. Walaupun tidak seekstrim Iwan Fals, Daud juga pernah menyerukan supaya penguasa bisa menegakkan keadilan.

Ketika Daud melihat ketidakadilan yang dilakukan oleh penguasa, Daud bereaksi dan menyerukan keadilan terhadap penguasa. Daud tidak tahan melihat ketidakadilan penguasa. Mereka menghakimi dengan tidak jujur, melakukan kejahatan, bahkan menjalankan kekerasan di bumi. Maka sebagai orang yang diurapi Tuhan, Daud berteriak kepada penguasa yang tidak menjalankan fungsinya dengan baik. Daud tidak sabar melihat orang benar diperlakukan tidak adil, sedangkan orang-orang fasik berpesta dalam kesesatan mereka. Sikap Daud ini merupakan sikap yang tepat sebagai orang yang diurapi Tuhan. Sikap ini mewakili sikap umat Tuhan ketika melihat penguasa tidak menjalankan tugasnya dengan benar. Dalam Roma 13 dikatakan bahwa pemerintah merupakan hamba atau wakil Allah di bumi, namun umat Allah adalah sebagai hamba atau wakil Allah untuk mengawasi pemerintah.

Bagaimana dengan kita? Ketika kita melihat pemerintah tidak menjalankan tugas dengan benar, siapa yang duluan berteriak? Iwan Fals atau orang Kristen? Kita tidak perlu ekstrim seperti Iwan Fals, tetapi paling tidak kita peduli terhadap ketidakadilan. Kepedulian kita tidak harus dengan mendirikan partai Kristen atau turun ke jalan-jalan untuk demo. Marilah kita mulai dengan melakukan keadilan itu sendiri. Mari kita memberikan teladan kepada pemerintah. Melalui perusahaan, rumah tangga, gereja, kita wujudkan keadilan. Jangan sampai di dalam perusahaan kita, keluarga kita, gereja kita, keadilan menjadi barang yang langka. Kita tidak perlu menjadi manusia setengah dewa, tetapi jadilah manusia utuh yang di dalamnya ada kebenaran dan keadilan.

“Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir” (Amos 5:24)

No comments: