"We were created to glorify God and to enjoy Him forever ..."

Wednesday, July 27, 2011

“In order for people to change, they must understand that the price to be paid to change is less than the price to keep the status quo.”
- Daryl Conner -

Saturday, April 23, 2011

KETIKA KASIH-NYA TAK TERPAHAMI

”Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

(Yohanes 3:16)

”Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.”

(Roma 5:8)

Seorang pengarang lagu bernama F.M. Lehman mencoba melukiskan kasih Allah dalam lagu yang berjudul ”Kasih Allah”. Sepenggal dari syair lagu tersebut berbunyi: ”walau lautan dijadikan tinta, lagit dijadikan kertas, tiap pohon jadi pena dan tiap orang penulisnya, tak mungkin akan menuliskan kasih Allah yang besar.” Kasih Allah memang tidak bisa diselami. Tidak ada penyelam yang sangat hebat yang dapat menyelami kasih Allah. (Apa lagi kalau penyelamnya saya, wong berenang saja hanya bisa gaya dada – begitu nyemplung, langsung dadaaa.....). Tidak ada kata dan bahasa di dunia yang mampu mendefinisikan kasih Allah dengan sempurna. Mulai dari bahasa Jawa, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, sampai bahasa Mandarin tidak ada yang mampu menguraikan kasih Allah dengan sempurna. (Apa lagi bahasa Nias yang pulaunya saja tidak kelihatan di dalam peta). Kasih Allah tidak akan habis untuk diceritakan dengan metode cerita apa pun. Baik melalui cerita drama, apalagi cerita sinetron pasti sampai ribuan episode dan mungkin tidak akan ada ending-nya. Kasih Allah juga tidak dapat dirumuskan dengan rumus apa pun. Mulai dari rumus matemetika, rumus fisika, rumus kimia, sampai rumus cinta yang suka dibuat-buat oleh anak-anak muda zaman sekarang. Kasih Allah tidak dapat mengalami krisis seperti krisis keuangan, ekonomi, politik, kepemimpinan, dsb. Kasih Alah juga harganya tidak bisa naik turun seperti harga sembako dan BBM. Intinya kasih Allah memang tidak dapat dipahami.

Apa lagi kalau dibandingkan dengan kasih manusia akan semakin membuat kita tidak dapat memahami atau menyelami kasih Allah. Kualitas kasih Allah dengan kasih manusia sungguh jauh berbeda. Perbedaannya bagaikan langit dan bumi, sejauh timur dari barat. Kasih manusia telah mengalami kemerosotan, krisis yang sangat parah, dan sangat gampang untuk ditebak. Lihat saja manusia zaman ini yang dengan gampang mengobral cinta, sama seperti baju-baju di mall yang didiskon 50% + 20% + berlaku kupon potongan lagi. Maka kalau di mana-mana harga-harga naik hanya ada satu yang harganya turun, yaitu kasih manusia. Hari ini orang dengan gampang bilang I love you tetapi dengan gampang juga I lempar you. Kasih manusia pada umumnya berorientasi pada dirinya sendiri, kasih yang menguntungkan dirinya sendiri. Atau kalaupun tidak untung yang penting tidak merugikan dirinya sendiri.

Manusia mengasihi karena ingin dipuji, supaya dikasihi kembali atau asal kita meruntung/tidak rugi, namun Allah mengasihi bukan karena kita baik, bukan supaya kita membalasnya lebih atau bukan asal kita mengasihi Dia.

Itulah perbedaan kasih Allah dengan kasih manusia dan perbedaan inilah yang membuat kita semakin tidak dapat memahami kasih Allah.

Dalam Yoh. 3:16 dan Rom. 5:8, minimal ada dua yang bisa kita pelajari tentang kasih Allah, yaitu bahwa kasih Allah itu:

1. Mengorbankan Diri

Kalau Alkitab hanya mengatakan bahwa Allah begitu mengasihi dunia, itu tidak terlalu istimewa dan menghebohkan sejarah dunia. Tetapi karena Alkitab melanjutkan bahwa karena kasih-Nya itu Ia mengaruniakan anak-Nya yang tunggal, itu mengubah sejarah kehidupan manusia sehingga dibicarakan di sepanjang zaman. Kalau kasih manusia menguntungkan diri, sebaliknya kasih Alah mengorbankan diri. Pengorbanan diri Allah diwujudkan dengan kelahiran Yesus di Betlehem sekitar 2000 tahun yang lalu. Ia tidak hanya menjadi manusia, tetapi menjadi manusia yang hina. Ia tidak hanya lahir di dunia, tetapi Ia lahir dengan cara yang tidak layak di kota yang tidak layak, di sebuah kandang yang tidak layak dan palungan yang tidak layak. Bahkan orang-orang yang membesuknya pertama sekali adalah para gembala yang tidak layak. Puncaknya, Ia pun mati dengan cara yang tidak layak. Dia mengalami hukuman yang tidak layak Ia terima dari orang-orang yang memang tidak layak. Namun, kelahiran dan kematiannya yang tidak layak itu membuat manusia menjadi layak. Kalaupun ada orang yang pernah lahir atau mati dengan cara yang tidak layak, itu bukan karena pilihannya tetapi karena keadaan. Tetapi Allah dengan sengaja memilih cara kelahiran dan kematian seperti ini untuk menunjukkan betapa serius kasih-Nya kepada kita yang seringkali tidak serius mengasihi-Nya. Itulah keajaiban kasih Allah yang tidak dapat kita pahami.

2. Aktif

Allah tidak hanya berhenti pada perasaan kasih kepada manusia, tetapi diteruskan dengan tindakan aktif dan positif, bukan seperti kasih manusia yang apatis dan manipulatif. Kasih manusia acapkali hanya sebatas perasaan, tidak berbuah pada tindakan aktif. Manusia cenderung hanya ingin menerima kasih tetapi tidak mau membagikan kasih. Kita dengan mudah jatuh belas kasihan kepada orang lain, tetapi sulit melakukan tindakan kasih. Suatu sore di tengah hujan yang deras, saya pulang dari gereja ke rumah dengan mengendarai sepeda motor. Waktu berhenti di sebuah lampu merah, saya melihat seorang pemuda yang sedang menuntun sepeda motornya karena mogok di tengah hujan yang sangat deras tanpa memakai jas hujan. Begitu orang itu melintas dalam pandangan saya, langsung jatuh belas kasihan dalam hati saya. Namun, belas kasihan itu benar-benar hanya jatuh sampai-sampai ”pingsan” sehingga tidak bisa bergerak untuk bertindak dan hanya diakhiri dengan dua kata dalam hati saya, ”kasihan dia”. Itulah kasih manusia.

Namun Allah tidak demikian. Allah tidak menunggu manusia menjadi baik baru kasih-Nya bertindak. Bahkan Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa (Rom. 5:8). Allah tidak menunggu manusia datang kepada-Nya dengan kasih yang sempurna, bahkan ketika manusia belum tahu cara mengasihi, kasih-Nya telah bertindak untuk kita. Sekali lagi inilah keajaiban kasih Allah yang tidak dapat diselami.

Moment Jumat Agung dan Paskah adalah moment kasih. Moment di mana kita memperingati kasih Allah yang mengorbankan diri-Nya dan bertindak aktif untuk kita. Biarlah moment ini juga menjadi moment untuk belajar mengasihi. Mengasihi Allah dan sesama. Mungkin ada suami istri yang merasa hubungannya sudah tidak ada kasih. Mungkin antara orang tua dan anak hubungannya sudah beku karena tidak ada kasih. Atau mungkin kita sudah jarang berbelas kasihan kepada orang lain. Mungkin itu karena kita tidak mau mengorbankan diri dan tidak mau bertindak aktif melakukan kasih. Marilah kita belajar mengorbankan diri untuk orang lain. Marilah kita belajar untuk memulai secara aktif mengasihi orang lain dan jangan menunggu mereka mengasihi kita. Mulailah dari diri kita.

Selamat Jumat Agung dan Paskah, selamat merayakan kasih.

Tuesday, February 23, 2010

Berproses Dalam Pelayanan

2 Korintus 12:1-10

Di zaman yang serba instan ini banyak orang yang tidak senang dengan proses. Proses itu lama. Sementara orang-orang zaman sekarang sukanya serba cepat. Lebih cepat lebih baik. Memang ada banyak hal yang dengan kecanggihan teknologi bisa dipercepat oleh manusia, tetapi juga tidak bisa dipungkiri bahwa banyak hal yang harus berjalan dan dilalui melalui sebuah proses. Hidup itu sendiri adalah sebuah proses.

Pelayanan adalah sebuah proses. Ada proses-proses yang harus kita jalani dalam pelayanan. Mengapa perlu ada proses? Atau untuk apa proses itu? Proses itu perlu untuk membentuk karakter kita menjadi lebih dewasa di dalam Kristus sehingga pelayanan kita semakin lebih baik dan berkenan di hadapan Allah.

Perikop yang kita baca hari ini merupakan proses yang dihadapi oleh Paulus dalam pelayanannya. Dari sini kita belajar tiga hal yang bisa dipakai Tuhan supaya kita berproses dalam pelayanan. Tiga hal itu saya singkat menjadi 3K:

1. Komunitas
Tuhan tidak menempatkan kita seorang diri dalam pelayanan, tetapi Dia menempatkan kita dalam sebuah komunitas (jemaat). Tujuannya, karena ada proses-proses yang harus kita jalani di dalam kumunitas untuk membentuk kita. Ini dialami oleh rasul Paulus. Paulus diperhadapkan dengan jemaat yang memiliki berbagai pandangan dan tanggap mengenai pelayanannya. Pelayanannya sering dipuji, dan dihargai. Tetapi konteks perikop ini adalah diantara jemaat ada yang meragukan kerasulannya dan dia dianggap duniawi. Itulah sebabnya Paulus merasa perikop ini perlu ditulis untuk membuktikan keaslian kerasulan kepada orang-orang yang meragukannya. Ini adalah fakta yang tidak bisa dihindari oleh Paulus karena dia berada dalam kumunitas (jemaat).

Kalau kita melayani di gereja yang memiliki jemaat 500 orang, itu artinya kita berhadapan dengan 500 karakter yang berbeda. Di antara 500 itu mungkin ada yang senang memberi pujian ketika kita melayani, tetapi ada juga yang senang memberi kritikan. Kadang-kadang ditraktir, tetapi kadang-kadang juga ditraktor. Ada yang sangat percaya kepada kita, ada juga yang sangat meragukan kita. Ada yang menghargai pelayanan kita, tetapi tidak sedikit yang menganggap remeh. Ada kalanya diapresiasi, tetapi ada kalanya jg diamputasi. Namun, semuanya berguna untuk membentuk kita dalam pelayanan. Sama seperti kata amsal, ”Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.” (Ams. 27:17).

2. Kesuksesan
Kita sering mendengar perkataan bahwa kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Dari perkataan ini sebenarnya juga menunjukkan bahwa kesuksesan adalah kegagalan yang tertunda. Dengan demikian Tuhan memproses kita dalam pelayanan tidak selalu melalui kegagalan, tetapi juga lewat kesuksesan atau keberhasilan dalam pelayanan yang kita lakukan. Rasul Paulus dalam perikop ini menceritakan pengalaman rohaninya yang luar biasa yang juga menunjukkan satu keberhasilan dalam pelayanannya. Ia membuktikan bahwa ia bukanlah rasul yang biasa, tetapi rasul berhasil dengan sejumlah pengalaman yang istimewa. Kesuksesan pelayanan yang capai oleh rasul Paulus ini membawa dia sampai kepada pemahaman puncak, yaitu bahwa Allah yang ia layani adalah Allah yang benar dan maha kuasa. Bahkan pada satu kesempatan ketika orang-orang melihat kehebatan Paulus dalam pelayanannya, bersama Barnabas, dia pernah dianggap sebagai dewa dan orang-orang mau mempersembahkan korban kepadanya dan mau menyembah dia. Tetapi Paulus melarang mereka karena ia sadar bahwa dirinya hanyalah hamba dan yang patutu disembah adalah Allah. Keberhasilan yang ia alami justru semakin membuat dia sadar siapa dirinya di hadapan Allah.

Saudara-saudara, ketika kita mengalami kesuksesan dalam pelayanan, kita harus ingat bahwa itu adalah bagian dari proses yang harus kita jalani dari Tuhan. Lewat kesuksesan Tuhan ingin supaya kita menjadi orang yang rendah hati dan tidak sombong dalam pelayanan. Semakin kita sukses dalam pelayanan harusnya semakin kita rendah hati di hadapan Tuhan dan sesama.

Namun fakta yang seringkali kita lihat adalah banyak orang ketika sukses dalam pelayanan berubah fokus, bukan lagi Tuhan tetapi diri sendiri. Seringkali secara tidak sadar yang kita layani adalah diri kita sendiri, bukan lagi Tuhan. Yang kita beritakan dan kita saksikan diri dan kesuksesan kita, bukan lagi Tuhan. Maka tidak heran kalau di dalam gereja banyak orang yang lebih terkenal dari Tuhan Yesus karena yang lebih banyak diberitakan adalah dirinya sendiri, bukan Tuhan Yesus.

3. Kelemahan
Allah sangat senang memakai orang-orang lemah dalam pelayanan. Banyak contoh dalam Alkitab bagaimana Allah memakai orang-orang yang memiliki kelemahan untuk pekerjaan yang besar. Salah satunya adalah rasul Paulus. Kita tidak bisa pungkiri bahwa Paulus memiliki sejumlah kelebihan, namun dia juga memiliki kelemahan dalam dirinya. Kelemahannya itu ia sebut sebagai duri dalam daging. Kita tidak tahu persis maksud dari diri dalam daging tersebut. Ada yang mengatakan itu adalah penyakit epilepsi. Ada juga yang mengatakan penyakit mata. Namun apa pun itu, yang jelas penyakit itu membuat Paulus lemah dan terbatas dalam pelayanannya. Kelemahan Paulus ini telah memproses dia sehingga sampai pada satu kesadaran yang sangat dewasa, ”Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” (ay. 10).

Semua orang memiliki kelemahan. Sesungguhnya kita memiliki sejumlah kelemahan dan ketidaksempurnaan: fisik, emosi, intelektual dan rohani. Namun biasanya kita menyangkali kelemahan kita, membelanya, mancari dalih untuknya, menyembunyikannya dan membencinya. Sikap seperti ini tidak dapat membuat kita mengalami prosos menuju kepada kedewasaan karakter. Allah ingin kita sama seperti Paulus mengakui kelemahan-kelemahan kita. Berhentilah perpura-pura memiliki semuanya dan jujurlah pada diri kita sendiri. Daripada hidup dalam penyangkalan dan membuat alasan-alasan, ambilah waktu untuk mengenali kelemahan-kelemahan dalam diri kita.

Dengan menyadari kelemahan kita, membuat kita akan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan dan tidak lagi mengandalkan diri dalam pelayanan. Kuasa Tuhan dalam pelayanan nyata bukanlah ketika kita menunjukkan sejumlah kehebatan dan kelebihan kita, tetapi justru ketika kita melayani dalam kelemahan yang kita miliki. Kita tidak perlu maluatas kelemahan kita, tetapi justru sama seperti Paulus kita harus bermegah dalam kelemahan kita supaya kuasa Tuhan menjadi sempurna atas pelayanan yang kita lakukan.

Pelayan yang berkenan di hadapan Allah adalah pelayan yang setia menjalani proses dalam pelayanannya.

Wednesday, January 7, 2009

Langit Yang Baru Dan Bumi Yang Baru: Semangat Baru Di Tahun Yang Baru

Wahyu 21:1-8

Apa yang memberi semangat kepada kita memasuki tahun 2009 ini? Atau pertanyaannya kurang tepat. Mungkin yang lebih tepat, apakah masih ada semangat dalam memasuki tahun 2009 ini? Semoga masih ada semangat, walaupun semangat yang tersisa. Namun, kalau mau jujur banyak orang yang memasuki tahun 2009 ini dengan pesimis dan bahkan putus asa. Krisis ekonomi yang tidak kunjung berakhir membuat banyak orang tidak optimis lagi menghadapi tahun ini. Alam pun seolah tidak bersahabat lagi dengan kita. Bencana alam seolah menjadi sambutan bagi tahun 2009. Gempa yang melanda Manokwari, Papua Barat pada 4 Januari 2009, sampai hari ini belum berhenti. Bahkan tadi pagi gempa susulan berkekuatan 5,5 dan 5,6 skala richter masih terus melanda Manokwari.

Kedamaian yang dicari setiap orang juga sepertinya akan sulit untuk didapat. Perang di Jalur Gaza antara Israel dengan Hamas yang mewarnai penutupan tahun 2008 dan penyambutan tahun 2009 sampai hari ini belum usai dan sepertinya memberi sinyal bahwa dunia ini memang semakin tidak aman dan damai. Kondisi manusia juga semakin merosot, baik jasmani maupun rohani. Penyakit seolah tidak dapat lagi terbendung dalam diri manusia. Lihat saja rumah sakit tidak pernah sepi, selalu ramai. Kalau tempat-tempat hiburan high season hanya pada bulan-bulan tertentu, rumah sakit setiap hari high season. Apalagi yang bisa diharapkan dan yang membuat kita semangat di tahun 2009 ini. Planet bumi kita ini pun sepertinya sudah tidak bisa diharapkan lagi. Semakin merosot dan semakin merosot.

Lalu apakah benar-benar tidak ada harapan lagi? Bagi orang Kristen jawabannya adalah tidak. Di tengah dunia yang minus harapan, justru kita masih punya 1001 harapan yang membuat kita terus bersemangat dalam menghadapi tahun 2009 ini dan bahkan tahun-tahun berikutnya. Langit yang baru dan bumi yang baru. Itulah harapan yang memberi semangat bagi kita.

Semangat apa yang kita peroleh dari pengharapan langit yang baru dan bumi yang baru?

1. Kehadiran Allah secara nyata dan khasat mata
Di langit dan bumi yang baru kita tidak hanya merasakan kehadiran Allah, tetapi kita benar-benar akan melihat Allah secara nyata dan khasat mata. Ay. 3 mengatakan, ”Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: ’Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.” Kalau hari ini kita bisa melihat Tuhan secara nyata dan berkata kepada kita, ”jangan takut, Aku akan memberkati engkau di tahun 2009 ini” mungkin ceritanya akan berbeda. Tetapi kenyataannya tidak demikian. Kita mungkin percaya bahwa Tuhan akan memberkati kita, tetapi kita tidak melihat secara khasat mata bagaimana dan dengan cara apa Ia akan memberkati kita. Terkadang hal inilah yang membuat kita ragu, apalagi kalau yang kita hadapi adalah masalah.

Tetapi dalam Wahyu 21 ini kita tidak lagi membutuhkan iman untuk percaya akan kehadiran Allah, karena kita akan secara nyata dan khasat mata bertemu dan bersekutu dengan Allah. Dia Akan menjadi Allah kita dan kita akan menjadi umat-Nya bukan dalam iman lagi tetapi dalam dunia nyata. Kehadiran Allah ini menjadi puncak dari seluruh pengharapan manusia dan menjadi jawaban dari seluruh pertanyaan manusia selama ini, yaitu pertanyaan, di manakah Allah?

Saudara-saudara, di tahun 2009 ini mungkin ada banyak orang yang skeptis terhadap kehadiran Allah karena melihat situasi dunia yang seperti ”tanpa” Allah. Tetapi kita diberi pengharapan bahwa Allah tetap ada dan akan ada dan puncaknya adalah di langit dan bumi baru yang menunggu di depan kita. Kita tetap memiliki semangat dalam memasuku tahun 2009 ini karena perjalanan hidup yang akan kita jalani adalah perjalanan untuk bertemu dengan Allah yang selama ini kita imani.

2. Dunia tanpa penderitaan dan kesusahan
”Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu." Segala ketakutan yang sedang kita hadapi saat ini akan lenyap di langit dan bumi yang baru. Di tahun 2009 ini masih akan ada banyak air mata, perkabungan, ratap tangis, dukacita, penderitaan dan masalah demi masalah. Namun, itu semua hanyalah sementara dan tidak ada bandingnya dengan sukacita dan kebahagiaan kelak yang akan kita dapatkan di langit dan bumi yang baru. Ini adalah satu dunia yang sempurna yang diinginkan setiap orang. Di sana, di Yerusalem yang baru ada damai ketika kita bersama dengan Allah. Bukan seperti Yerusalem lama yang hari ini seperti sebuah neraka karena menjadi sumber perang. Di sana tidak ada lagi sakit penyakit. Pasal 22:2 mengatakan, ”Di tengah-tengah jalan kota itu, yaitu di seberang-menyeberang sungai itu, ada pohon-pohon kehidupan yang berbuah dua belas kali, tiap-tiap bulan sekali; dan daun pohon-pohon itu dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa.” Tidak akan ada lagi krisis pangan karena di sana ada pohon kehidupan yang berbuah tanpa mengenal musim. Di sana juga tidak ada lagi krisis BBM dan energi, karena yang menjadi sumber cahaya di sana adalah kemuliaan Allah dan Anak Domba itu (21:23-26). Segala bentuk krisis tidak akan ada lagi di sana.

Namun, pasal 21:7 mengatakan bahwa yang dapat memperoleh ini semua adalah mereka yang menang atau mereka yang bertahan. Menang atau bertahan dari apa? Tidak lain menang dan bertahan dari dunia ini. Dari dunia yang butuh perlawanan dari kita. Singkatnya, kita harus tetap semangat menghadapi tahun 2009 yang penuh dengan tantangan, penderitaan dan kesusahan karena kita sedang berjalan menuju langit dan bumi yang baru di mana tidak ada lagi penderitaan dan kesusahan.

Untuk itu kalau hari ini kita menangis oleh karena pergumulan yang kita alami, bertahanlah karena di sana tidak akan ada tangis lagi. Kalau hari ini kita sedih, susah, menderita dalam menjalani pergumulan hidup ini, bertahanlah karena di sana tidak ada lagi dukacita. Kalau hari ini kita menjadi tawar hati, putus asa melihat krisis hidup yang menakutkan, bertahan dan tetaplah semangat karena di sana ada sumber hidup yang menakjubkan.

Selamat menjalani tahun yang baru, selamat menanti langit dan bumi yang baru.

Wednesday, December 3, 2008

KABINET MANUSIAWI DAN BERSAHABAT

Barack Obama tidak hanya membuat sejarah baru dengan menjadi Presiden kulit hitam pertama di Amerika, tetapi juga diyakini mampu mengubah citra buruk Amerika di mata dunia (khususnya orang-orang yang menjadi korban arogansi Amerika selama ini). Hal ini terlihat dari nama kabinet baru yang dibentuk Obama, yaitu kabinet manusiawi dan bersahabat.

Waktu saya membaca di koran sebutan kabinet bentukan Obama ini, muncul dua pertanyaan yang bisa menjadi perenungan kita bersama.

Pertama, mengapa "manusiawi"? Dari istilah ini memunculkan beberapa pertanyaan dibenak saya. Apakah pemerintah AS selama ini sudah tidak manusiawi? Atau mungkin sebagian orang melihatnya demikian? Dari cara mereka memerangi terorisme mungkin sebagian benar tidak manusiawi. Namun pertanyaan ini sebenarnya bukan hanya untuk bangsa Amerika atau George Bush, tetapi untuk setiap pemerintah di bumi ini termasuk pemerintah Indonesia dan bahkan untuk seluruh umat manusia. Apakah kita masih manusiawi? Ketika pemerintah melakukan penggusuran terhadap bangunan liar, apakah dengan cara manusiawi? Ketika mahasiswa demonstrasi, apakah dengan cara manusiawi? Ketika banyak orang di-PHK yang katanya akibat krisis global, apakah mereka di-PHK dengan cara manusiawi? Marilah kita bersama Obama mewujudkan "manusiawi" ini di keluarga, sekitar, masyarakat, bangsa, dan bumi kita ini.

Kedua, mengapa "bersahabat"? Apakah bangsa Amerika sudah kurang bersahabat lagi? Bukankah prisip "sahabat" ini sudah semakin hilang di dalam kehidupan kita sebagai umat manusia? Bukankah seharusnya "Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi saudara dalam kesukaran"? Namun, lihatlah di sekitar kita, yang seringkali terjadi adalah seorang sahabat memanfaatkan sahabatnya dan bersenang-senang dalam kesukaran sahabatnya sendiri. Seharusnya kasih yang terbesar itu adalah "kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya." Tetapi yang lebih banyak kita lihat dan lakukan adalah mengorbankan nyawa "sahabat-sahabat" kita untuk kepentingan diri dan golongan. Di manakah sahabat? sudah matikah? Atau sudah kita "museum"kan? Sekali lagi mari kita belajar bersama Obama untuk membangkitkan kembali persahabatan. Obama sudah memulainya dengan mengangkat Hillary Clinton menjadi Menteri Luar Negeri. Sebelumnya Hillary adalah saingannya dalam persaingan calon presiden di Partai Demokrat, tetapi kini menjadi sahabatnya dalam menjalankan pemerintahan Amerika.

Semoga tulisan singkat ini bermanfaat bagi setiap kita, sehingga kita bisa menjalani hidup yang manusiawi dan bersahabat.

Wednesday, November 12, 2008

Sungguh Amat Baik

"Sungguh amat baik". Itulah "akreditasi" yang diberikan Tuhan ketika selesai menciptakan manusia. Beberapa hari yang lalu ketika saya membaca Kejadian 1, seolah perhatian saya "tertawan" oleh frase "sungguh amat baik" yang diucapkan Allah dia ayat 31. Waktu merenungkan frase ini muncul dua pertanyaan dalam benak saya. Pertama, apa yang menjadikan manusia itu sungguh amat baik? Kedua, apakah hari ini Tuhan masih melihat manusia dengan "akreditasi" yang sama, "sungguh amat baik"?

Dari pertanyaan pertama saya menemukan jawaban bahwa yang membuat manusia itu sungguh amat baik gambar dan rupa Allah yang ada dalam diri manusia. Dari seluruh ciptaan yang lain hanya manusialah yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Ketika Allah melihat gambar dan rupanya dalam diri manusia, Ia melihatnya begitu sempurna maka Dia mengatakan sungguh amat baik. Tanpa gambar dan rupa Allah di dalam diri manusia, pada dasarnya manusia tidak layak menyandang predikat "sungguh amat baik", karena manusia diciptakan dari debu tanah. Sesuatu yang tidak berguna dan tidak dianggap.

Perenungan dari pertanyaan pertama, sekaligus memberi jawaban atas pertanyaan kedua. Apakah hari ini manusia masih menyandang predikat "sungguh amat baik"? Dengan kata lain, apakah gambar dan rupa Allah masih ada di dalam diri manusia zaman ini? Bukankah manusia telah kehilangan kemuliaan (gambar dan rupa) Allah?

Saya mengajak kita mengamati bagaimana tingkah laku manusia di sekitar kita. Baru beberapa hari yang lalu perhatian seluruh masyarakat terfokus pada eksekusi terhadap "trio" pelaku bom Bali. Manusia membunuh sesamanya atas nama agama. Akhir-akhir ini hampir semua berita televisi tidak terlewatkan memberitakan peristiwa mutilasi. Demi ego dan kebencian, manusia tak segan-segan menghabisi nyawa sesamanya. Belum lagi kerusakan moral yang semakin merajalela.

Masihkah ada gambar dan rupa Allah dalam diri manusia di tengah zaman yang semakin bengkok ini? Masih dapat diperbaharuikah gambar dan rupa Allah yang sudah rusak itu? Jawabanya adalah masih, kalau ada KASIH. Karena kasih Allah mau berdamai kembali dengan manusia yang tidak layak diampuni. Karena kasih Ia rela mengorbankan dirinya manusia yang tidak menghargai kekudusan gambar dan rupa Allah yang ada di dalam dirinya. Semuanya karena kasih. Andai ada kasih, manusia tidak mungkin membunuh sesamanya demi apa pun, termasuk demi agama. Andai ada kasih manusia tidak akan tega menghabisi nyawa sesamanya. Andai ada kasih manusia tidak akan menghakimi sesamanya hanya karena perbedaan agama, suku, ras, dsb. Andai ada kasih manusia tidak akan mementingkan egonya, tetapi berkorban bagi orang. Andai ada kasih ... Andai ada kasih ... !!!

Thursday, November 6, 2008

SEBUAH PENANTIAN

Nats: Kis. 1:9-11

Saudara-saudara, sadar atau tidak sadar, terima atau tidak terima, setuju atau tidak setuju, saya mau katakan bahwa, ”hidup adalah sebuah rangkaian penantian” dan semua penantian itu adalah sebuah kesia-siaan. Saya akan mulai ketika kita dalam kandungan kita sedang menanti untuk lahir ke bumi. Setelah lahir kita menanti untuk bertumbuh (bisa merangkak, berdiri dan berjalan). Setelah itu kita menanti untuk sekolah dan kuliah. Waktu sekolah dan kuliah kita menanti untuk bisa bekerja. Waktu bekerja kita menanti untuk punya pacar, menikah dan membentuk keluarga. Setelah menikah kita menanti punya anak dan membesarkan mereka. Dan sampai akhirnya ketika kita menjadi tua, kita menanti untuk kembali kepada debu tanah di mana kita berasal.

Seluruh penantian ini adalah sia-sia, karena penantian demi penantian akan berlalu begitu saja dan pada akhirnya kita akan mengakhiri penantian hidup kita dengan kematian.

Lebih ironis lagi, Henri Nouwen pernah mengatakan bahwa hidup ini tidak lain adalah rangkaian pengalaman kehilangan. Ketika lahir kita kehilangan rasa aman berada dalam kandungan; ketika masuk sekolah kita kehilangan rasa aman tinggal di lingkungan keluarga; ketika memperoleh pekerjaan pertama, kita kehilangan kemerdekaan sebagai anak muda; ketika menikah kita kehilangan kegembiraan karena masih mempunyai banyak pilihan; ketika kita menjadi tua kita kehilangan ketampanan, kesehatan, kebebasan fisik; dan ketika kita mati, kita kehilangan segala-galanya.

Jadi bisa disimpulkan bahwa apa yang kita nantikan sebenarnya hanya membawa kehilangan. Maka sempurnalah kesia-siaan hidup manusia. Untuk itu tidak heran ketika Pengkhotbah memandang hidup ini secara pesimis dengan mengatakan, ”... segala sesuatu adalah sia-sia”.

Lalu bagaimana kemudian manusia menanggapi kenyataan bahwa hidup ini adalah sebuah penantian yang sia-sia?

1. Menikmati hidup sepuasnya.

Banyak orang yang berkata, mari kita nikmati hidup ini karena sebentar lagi hidup ini akan berlalu dengan sia-sia dan berakhir dengan kematian. Untuk itu selagi masih hidup, selagi ada kesempatan untuk menikmati hidup, marilah kita nikmati. Apakah dengan cara ini membuat penantian hidup kita menjadi lebih berarti? Jawabannya, tidak! Karena manusia ternyata tidak akan pernah puas dengan kenikmatan hidup ini. Pada akhirnya, kenikmatan hidup pun bagian dari penantian yang akan berlalu dengan sia-sia.


2. Menolak/melawan kenyataan bahwa hidup ini adalah penantian yang akan berlalu dengan sia-sia.

Ada orang yang menolak/melawannya dengan tidak mau jadi tua dengan berbagai cara. Mungkin bisa dengan mengubah penampilan atau yang lebih canggih dengan operasi plastik sehingga kelihatan tetap muda. Namun, itu pun tidak akan bertahan lama. Atau ada juga orang yang berusaha untuk hidup abadi, misalnya seperti yang kita lihat dalam film ”The Myth” dan ”Forbidden Kingdom”. Ini pun adalah usaha yang sia-sia, karena ternyata dalam film ”Forbidden Kingdom” ini orang yang telah mendapatkan hidup abadi bisa mati hanya dengan anak panah yang terbuat dari giok.

Dengan demikian semua usaha manusia dalam menanggapi kesia-siaan hidup manusia ini juga sia-sia. Maka semakin sempurnalah kesia-siaan hidup manusia.

Lalu bagaimana caranya supaya hidup yang merupakan rangkaian penantian ini tidak sia-sia? Karena hidup ini tidak bisa lepas dari penantian demi penantian, maka satu-satunya cara adalah mencari penantian yang tidak sia dan yang membuat hidup ini menjadi sebuah penantian yang berarti. Dan penantian itu adalah kedatangan Tuhan Yesus kembali. Kenaikan Tuhan Yesus sekaligus menciptakan sebuah penantian dalam hidup orang percaya, ”Yesus ini ... akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.” kedatangan Tuhan Yesus kembali menjadi penantian yang berarti dan bernilai karena kedatangan Tuhan Yesus akan membawa kita kepada kekekalan atau hidup abadi yang sesungguhnya. Ini adalah satu berita baik, karena di tengah-tengah penantian hidup yang sia-sia ada satu penantian yang mengubah semuanya menjadi berarti dan bermakna. Namun, ada satu berita buruk, yaitu penantian ini adalah penantian dalam pengembaraan. Kita ibarat pengembara yang sedang menuju satu tujuan, yaitu hidup yang kekal. Dalam pengembaraan ini ada banyak tantangan, rintangan, bahkan penderitaan. Terkadang kita akan menempuh jalan berumput hijau, tetapi ada kalanya kita akan menempuh padang pasir yang tidak berair. Mungkin ini bisa membuat kita bergumul, berjuang, menderita dan bahkan bisa bosan.

Maka ada beberapa sikap yang muncul dalam menanggapi ketegangan antara kekekalan yang kita nantikan dengan kenyataan hidup kita yang masih dalam pengembaraan:

1. Pesimis belaka
Melihat begitu beratnya tantangan yang dihadapi dalam penantian atau dalam pengembaraan ini, kemudian ada orang-orang yang pesimis. Mereka melihat seolah-olah kuasa iblis tetap saja berkuasa dan bahkan kelihatanya menang atas orang-orang Kristen, sementara kedatangan Kristus yang terus dinanti itu tidak kunjung datang. Melihat hal ini ada orang-orang yang kemudian putus asa dan tidak mau bertahan/berjuang dalam penantian atau pengembaraan mereka. Mereka meninggalkan iman mereka dan larut dalam kehidupan dunia yang sia-sia. Mereka memandang penantian mereka secara pesimis.

2. Optimis belaka
Selain sikap pesimis belaka, ada sikap yang kelihatannya positif tetapi juga terlalu ekstrim, yaitu sikap optimis belaka. Kalau sikap yang pertama tadi, mereka terbuai oleh keadaan hidup masa kini, sebaliknya sikap kedua ini, mereka hanya terobsesi oleh kehidupan yang akan datang. Mereka lupa bahwa sekalipun memiliki satu masa depan yang indah, tetapi kenyataannya mereka sedang berada dalam pengembaraan. Sehingga mereka mengabaikan tugas dan tanggung jawab mereka sebagai pengembara. Mereka juga lupa bahwa di sini masih ada tantangan yang harus mereka hadapi. Maka pada akhirnya ketika mereka tersadar akan keadaan mereka, akibatnya akan sama dengan yang pertama tadi, yaitu mereka akan menjadi kecewa dan juga menjadi putus asa.

3. Optimisme yang realistis
Sikap ketiga, dan yang seharusnya menjadi sikap kita adalah optimisme yang realistis. Artinya, kita tahu dan yakin bahwa kita memiliki pengharapan, yaitu kedatangan Tuhan Yesus kedua kali yang membawa kita pada hidup yang kekal bersama dengan Allah, tetapi juga harus sadar bahwa itu belum terjadi dan kita masih dalam penantian atau pengembaraan. Untuk itu sambil kita tetap memegang teguh pengharapan kita, kita juga harus melakukan tugas, tanggung jawab, perjuangan kita dalam menyelesaikan pengembaraan kita. Maka antara apa yang sedang kita nanti dengan apa yang kita jalani saat ini memiliki keterkaitan satu sama lain. Yang membuat kita tetap bertahan melakukan tugas, tanggung jawab dan perjuangan kita saat ini walaupun berat adalah apa yang kita nantikan di depan kita. Ketika kita melihat bahwa betapa berarti dan indahnya hidup dalam persekutuan yang intim dengan Allah kelak, itu akan membuat kita terus berjalan melewati padang gurun pengembaraan kita dan tidak memperhitungkannya, walaupun di sana ada kesulitan dan penderitaan.

Saudara-saudara, seperti yang saya katakan tadi dari awal bahwa hidup ini adalah penantian yang sia-sia. Namun diakhir khotbah ini saya mau katakan, jangan berhenti menanti karena ternyata masih ada satu penantian yang tidak sia-sia dan bahkan mengubah seluruh penantian kita menjadi berarti, yaitu menanti kedatanan Tuhan Yesus yang kedua untuk memberi hidup kekal kepada setiap kita.