"We were created to glorify God and to enjoy Him forever ..."

Thursday, July 18, 2013

TINJAUAN TEOLOGIS TERHADAP SENI


PENDAHULUAN
            Seni merupakan satu aspek yang Tuhan anugerahkan dalam kehidupan manusia. Kita tidak dapat pungkiri bahwa seni – lukisan, patung, fotogradi, musik, puisi, dan sebagainya – telah memberi pengaruh besar dalam kehidupan baik dalam tatanan praktis maupun dalam tatanan filosofis. Seni telah mewarnai dan memberi keindahan dalam dunia yang berdosa ini. Bahkan seni juga telah mengisi kehampaan di tengah hiruk-pikuk dunia ini dan yang sebenarnya penuh dengan kekosongan. Namun, bagaimanakah kita memaknai seni? Apakah seni hanya merupakan sebuah fenomena yang terjadi dalam kehidupan manusia secara kebetulan? Adakah kaitan antara seni dengan teologi dan dengan Allah Tritunggal yang kita sembah? Atau apakah seni merupakan salah satu dari mandat budaya yang Tuhan berikan kepada manusia?
             Di satu sisi para kritikus seni telah memberikan satu kesadaran kepada kita untuk menyanjung seni terlalu tinggi atau mempertuhankan seni. Misalnya, kritik Calvin Seerved terhadap asumsi-asumsi Alkitabiah di dalam konsep keindahan Paltonis dan Aristotelian.[1] Namun, jika kita mengkritik seni atau keindahan sebagai sesuatu yang tidak dapat dipertuhankan, bagaimanakah sikap kita seharusnya. Bagaimana Alkitab dan teologi menuntun kita untuk bersikap terhadap seni dalam pengalaman kehidupan kita. Untuk itu kita perlu melihat dan memahami letak seni dalam mandat budaya yang diberika Allah kepada manusia. Atau lebih jauh lagi, apakah seni merupakan salah satu mandat budaya? Apakah seni merupakan rancangan Allah dalam budaya manusia atau hanya merupakan satu fenomena yang muncul secara kebetulan dalam dunia ini? Bagaimana melihat seni secara ontologis dalam diri Allah dan dalam karya ciptaan-Nya? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini merupakan hal yang menarik untuk ditelaah dan khususnya dalam konteks ini akan ditinjau dari mandat budaya. Untuk itu sebelum masuk dalam pembahasan mengenai seni sebagai salah satu mandat budaya, terlebih dahulu akan dipaparkan secara sekilas mengenai apa itu mandat budaya. Kemudian akan dibahas mengenai pengaruh dan perkembangan seni dalam dunia dan dalam pengalaman hidup manusia, serta bagaimana gereja melihat seni sebagai mandat budaya.

SEKILAS TENTANG MANDAT BUDAYA
            Istilah budaya (kebudayaan) sendiri tidak tertulis secara eksplisit di dalam Alkitab, namun konsep atau prinsipnya sangat jelas di dalam Alkitab. “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penulilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” (Kej. 1:28). Ayat ini pada umumnya diterima sebagai cikal-bakal dari mandat budaya. Bagian ini kemudian ditegaskan lagi oleh Allah dalam perjanjian-Nya kepada Nuh, “Beranakcuculah dan bertambah banyaklah serta penuhilah bumi.” (Kej. 9:1).
            Sebelum lebih jauh, kita harus melihat terlebih dahulu pengertian dari kebudayaan itu sendiri. Berbagai formulasi telah bermunculan sebagai satu upaya untuk mendefinisikan kebudayaan. Henry Meeter menyimpulkan bahwa kebudayaan adalah “setiap pengembangan atas diri manusia yang menghasilkan peningkatan, pencerahan, dan disiplin yang diperoleh melalui pelatihan mental dan moral, peradaban, peningkatan dalam hal tata krama dan selera yang tinggi.”[2] Dengan menggunakan analogi dari William Shakespeare bahwa dunia ini sebagai sebuah panggung di mana manusia memaikan perannya, Kevin J. Vanhoozer mendefinisikan kebudayaan sebagai berikut:
Kebudayaan adalah “pertunjukkan” dari keyakinan dan nilai-nilai utama dari seseorang, atau suatu cara konkrit untuk “mementaskan” agama. Setiap orang adalah aktor yang memakai kostum kebudayaan dan sejarah, dan harus pula berada dalam adegan yang dikondisikan oleh budaya dan sejarah. Mereka tidak diberi naskah, tetapi diberi bahasa tertentu. Kebudayaan adalah lingkungan di mana seseorang memerankan adegan ketika berada di atas pentas. Lingkungan kebudayaan mempengaruhi dan mengkondisikan apa yang dilihat, dikatakan dan dilakukan aktor. Jika dunia adalah panggung, kebudayaan adalah perkakas yang memenuhi panggung itu.[3]

            Dari definisi di atas kita dapat menyimpulkan bahwa kebudayaan mengandung unsur pengelolaan, penggalian dan pengembangan atau penumbuhan yang dilakukan oleh manusia di dalam dan melalui alam semesta yang diciptakan Allah yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Atau dalam rumus Kenneth A. Myers, bahwa, “Culture is that complex whole which includes knowledge, belief, art, morals, law, custom, and any other capabilities and habits acquired by man as a member of society.”[4] Kalau kita kaitkan dengan Kej. 1:28, maka konsep mandat budaya untuk menguasai dan menaklukkan bumi berarti menggali dan mengembangkan semua yang ada di bumi ini, berkarya dan berpartisipasi melalui dan di dalamnya, bukan mengeksploitasinya. Dengan kata lain, respons manusia terhadap mandat yang diberikan oleh Allah menghasilkan kebudayaan. Dalam sejarah Kekristenan memiliki berbagai cara pendekatan terhadap kebudayaan. Sejauh ini minimal ada enam cara pendekatan kontemporer Kristen terhadap kebudayaan, yaitu: [5]
1.      Cultural indifference, yaitu satu sikap yang tidak mau memikirkan atau tidak peduli mengenai kebudayaan khususnya berkaitan dengan iman mereka. Mereka mungkin tetap bersentuhan dengan kebudayaan, tetapi tidak memberi perspektif iman Kristen terhadap kebudayaan.
2.      Cultural aversion, yaitu sikap yang mengganggap kebudayaan sebagai sesuatu yang merusak iman Kristen sehingga sikap terbaik terhadap kebudayaan adalah mengabaikan atau menjauhinya supaya iman Kristen tidak terkontaminasi olehnya.
3.      Cultural trivialization, yaitu pendekatan yang membedakan kebudayaan Kristen secara khas dengan bentuk-bentuk budaya populer yang ada. Budaya yang diterima hanyalah budaya yang dianggap sesuai dengan ayat-ayat Alkitab dan simbol-simbil Kristen yang terkenal.
4.      Cultural accommodation, yaitu pendekatan yang beranggapan bahwa merupakan tugas iman kita untuk mengakomodasi semua bentuk budaya dan haya hidup yang muncul. Pandangan ini tidak memiliki judgmental terhadap budaya karena menganggap budaya sebagai sesuatu yang netral.
5.      Cultural separation, yaitu pendekatan yang memiliki pandangan luas terhadap budaya, namun mereka berusaha keras memisahkan budaya Kristen dengan budaya yang ada sehingga mereka mempromosikan atau membangun alternatif budaya Kristen terhadap budaya yang sudah ada.
6.      Culture triumphalism, yaitu sikap yang menaruh harapan terlalu banyak terhadap kebudayaan sehingga sikap yang timbul adalah merayakan dan bersukacita atas semua budaya yang ada.
            Pertanyaannya adalah bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap kebudayaan? Pendapat T.M. Moore terhadap kebudayaan dapat menjadi representasi sikap Kristen yang seharusnya terhadap kebudayaan.
Culture matters, in other words; and, when it comes to culture matters, those who live in vital relation to the King and Lord of all cultures and kingdoms must not treat this as a subject of secondary importance. It involves all of life, all the time, and all our relationships, roles, and responsibilities. ... The approach we take engaging the culture of our day must be shaped by our citizenship in the kingdom of God; moreover, that approach will, wether we are conscious of it or not, give strong testimony to the watching world concerning the nature and importance of that eternal realm.[6]

            Dengan demikian mandat budaya merupakan bagian dari rencana Allah dalam penciptaan alam semesta dan dalam panggilan kita sebagai warga kerajaan Allah. Mandat budaya bukan merupakan hukuman atau konsekuensi dari kejatuhan manusia, tetapi merupakan rencana kekal Allah dalam penciptaan manusia dan alam semesta. Oleh karena itu seni sebagai bagian dari kebudayaan juga merupakan mandat atau panggilan Allah dalam diri manusia dan yang diejawantahkan dalam karya-karya seni yang dihasilkan oleh manusia.

SENI SEBAGAI MANDAT BUDAYA
            Dalam bagian ini kita akan melihat bagaimana worldview Kristen terhadap seni sebagai mandat budaya. Kita akan melihat landasan-landasan teologis terhadap seni sebagai mandat budaya.

Allah Tritunggal dan Seni
            Pada umumnya orang Kristen tidak mengalami kesulitan ketika berbicara tentang kebenaran dan kebaikan. Paling tidak hal itu merupakan topik yang sangat berkaitan dengan teologi atau memiliki kaitan langsung ketika berbicara tentang Allah misalnya. Kita dengan mudah menurunkan berbagai konsep tentang Allah ketika kita berbicara mengenai hal tersebut. Namun, bagaimana dengan topik mengenai seni dan keindahan? Adakah kaitan dengan Allah kita dan teologi? Atau dalam pertanyaan Clowney, “Bisakah teologi membantu kita memahami pengalaman estetika?”[7]
            Untuk menjawab hal tersebut mau tidak mau kita harus kembali kepada landasan ontologis, yaitu kembali kepada konsep Allah yang kita sembah. Allah yang kita sembah tidak hanya menyatakan keindahan melalui ciptaan-Nya, tetapi pada diri-Nya sendiri Dia adalah Allah yang indah. Sebagaimana kita ketahui bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah Tritunggal. Konsep Allah Tritunggal (Trinitas) yang pertama kali dicetuskan oleh Tertulianus dengan formulanya yang terkenal, tres personae, una substantia[8] (tiga pribadi, satu substansi) merupakan satu keunikan dalam Kekristenan. Donald G. Bloesch memberikan definisi secara sederhana mengenai Allah Tritunggal, yaitu bahwa, “Allah adalah satu pribadi di dalam tiga being atau tiga pribadi di dalam satu being.”[9] Tiga pribadi tersebut terdiri dari Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus, namun satu kesatuan. Keindahan Allah Tritunggal yang kita sembah dapat terlihat dalam hubungan perichoresis, sebagaimana Agustinus mengatakan bahwa Bapa berperan sebagai pecinta (lover), Anak sebagai yang dicintai (beloved), dan Roh Kudus sebagai cinta (love).[10] Keindahan Allah Tritunggal di sini dapat dilihat dari kasih dan kehidupan yang tidak terbatas, Allah yang aktif dan hadir dalam dunia, bukan pasif, dan Allah yang tidak statis tetapi dinamis.[11] Jeremy S. Begbie menyimpulakan bahwa,
If beauty is to be ascribed promordially to the triune God, and the life of God is constitude by the dynamism of outgoing love, then primordial beauty is the beauty of this ecstatic love for the other. God’s beauty is not static struture but dynamism of love. The “proportion and consonance” of God, hid “brightness” or radiance, his “perfection” and his affording “pleasure upon contemplation” are all to be understood in the light of the endless self-donation of Father to Son and Son to Father in the ecstatic momentum of the Spirit.[12]

            Dengan demikian secara filosofis, seni mengambil tempat yang sangat penting dalam teologi Kristen karena keindahan merupakan sifat ontologis dari Allah Tritunggal. Untuk itu ketika Allah memberikan mandat budaya kepada manusia tidak mungkin lepas dari aspek seni yang merupakan sifat kekal dari Allah Tritunggal. Bahkan seorang filsuf Jerman berkata dalam kaitan dengan sifat Allah Tritunggal ini bahwa ada tiga kesempurnaan di dunia ini, yaitu: das Wahre (kebenaran), das Gute (kebaikan), dan das Schone (keindahan).[13] Bagi Karl Barth, keindahan Allah merupakan sesuatu yang sulit untuk didefinisikan. Barth berpendapat bahwa keindahan Allah tidak dapat didefinisikan sesuai dengan apa yang kita rumuskan tetapi kita dapat melihat dari apa yang dinyatakan oleh Allah itu sendiri.[14] “From that perspective we can say that God’s beauty is God’s power to attract, to give pleasure, to create desire, to awaken joy and and wonder.”[15]

Keindahan Ciptaan
            Sifat keindahan dalam diri Allah Tritunggal sebagai pencipta terejawantahkan dalam ciptaan-Nya. Kalau kita memperhatikan dalam kisah penciptaan dalam kitab Kejadian, kita dapat melihat cerminan Allah yang indah dalam cara dan penilaian yang Ia berikan terhadap ciptaan itu sendiri. Clowney menggambarkannya demikian,
Di dalam karya ciptaan-Nya Allah menyatakan dirinya sendiri. Menurut Kejadian, penciptaan bukanlah suatu emanasi dari Keberadaan Allah; penciptaan merupakan karya dari Firman-Nya. Ia berfirman dan terjadilah demikian; ia memerintahkan dan terlaksanalah demikian. Karya tersebut sesuai dengan persetujuan-Nya yang berulang kali dinyatakan: “Dan Allah melihat bahwa semuanya baik” (Kej.1:10, 12, dll.). Tuhan puasmelihat ciptaan-Nya. Di taman dimana Allah menempatlan manusia yang telah Ia jadikan, terdapat “pohon-pohon yang menarik untuk dipandang” seagaimana juga “baik untuk dimakan” (Kej. 2:9). Keindahan pepohonan di Eden digemakan secara superlatif di dalam firman yang diterima Yehezkiel. Di sana Asyur digambarkan sebagai pohon cedar dari Lebanon, yang keindahannya merupakan “kecemburuan bagi semua pepohonan di Eden di taman Allah (Yeh. 31:9).[16]

            Keindahan ciptaan Allah tidak hanya pada akreditasi yang diberikan oleh Allah, “semuanya baik” tetapi juga pada bagaimana Allah menata semua ciptaan yang ada. Allah mengatur semua ciptaan sedemikian rupa sehingga berada dalam satu harmoni yang sangat indah. Dia meletakkan semua ciptaan pada posisi yang sangat sempurna, memisahkan siang dan malam, terang dengan gelap, memisahkan air dengan daratan, dan keagungan yang ia nyatakan lewat kehidupan yang Ia berikan atas semua makhluk ciptaan. Di sini kita melihat bahwa Allah yang kita sembah bukan hanya sebagai Creator, tetapi Ia juga pencipta yang creative. Untuk itu keindahan dari seluruh ciptaan Allah pada dasarnya bukan menceritakan ciptaan itu sendiri pada dirinya, tetapi menceritakan Allah yang menciptakannya. Dengan kata lain, keindahan alam ciptaan Allah terletak, bukan pada alam ciptaan itu sendiri tetapi pada diri Allah yang menciptakan-Nya.
           
Manusia sebagai Makhluk Seni
            Alkitab menuliskan bahwa manusia diciptakan sesuai dengan gambar dan rupa Allah, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita … Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” (Kej. 1:26-27). Implikasi sederhana dari manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah Tritunggal adalah, bahwa sifat-sifat manusia mencerminkan sifat-sifat Allah Tritunggal. Sifat-sifat Allah yang ada dalam diri manusia bukan hanya kebaikan, kebenaran, kekudusan, dan sifat-sifat lainnya, tetapi juga sifat seni yang ada dalam diri Allah merupakan sifat yang tidak dapat terpisahkan dalam diri manusia. Sehingga mandat budaya yang diberikan Allah kepada manusia juga tidak lepas dari seni sebagai bagian yang menyatu di dalamnya. Secara singkat kita dapat katakan bahwa manusia merupakan makhluk seni.
            Manusia yang diciptakan dalam rupa dan gambar Allah yang indah memberitahukan kepada kita bahwa sejak manusia diciptakan sudah memiliki benih-benih keindahan dalam dirinya. Hal itu tercemin salah satunya dari bagaimana manusia menjalankan mandat budaya pertama sekali di taman Eden, yaitu bagaimana manusia menata dan memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan (Kej. 2:19-20). Di sini kita dapat melihat kreatifitas manusia yang merupakan cerminan dari kreatifitas Allah. Dengan demikian karya seni yang dihasilkan oleh manusia bukan semata-mata merupakan hasil dari perjumpaan manusia dengan alam, sebagaimana yang dituliskan oleh Dick Hartoko,[17] tetapi merukapan hasil perjumpaan manusia dengan Allah yang menciptakannya.
            Setelah manusia jatuh dalam dosa, apakah seni yang ada dalam diri manusia – yang merupakan salah satu wujud gambar dan rupa Allah dalam dirinya – menjadi hilang? Jawabannya adalah tidak. Sekalipun Alkitab mengatakan bahwa setelah manusia jatuh ke dalam dosa, manusia telah “kehilangan kemuliaan Allah,” namun – sebagaimana sifat-sifat yang lain – benih-benih seni dalam diri manusia tidak pernah hilang, yang hilang adalah arah dan tujuan dari karya seni yang dilakukan oleh manusia. Hal ini tercermin dari karya seni yang dihasilkan oleh manusia, yang diwakili oleh menara Babel, yaitu sebagai wujud pemberontakan manusia kepada Allah. Namun, Allah dalam penebusan yang Ia rancang dan berikan kepada manusia, membawa kembali arah dan tujuan karya seni yang dihasilkan manusia untuk kemuliaan Allah. Hal ini dapat terlihat dengan jelas dari karya-karya seni yang dihasilkan oleh bangsa Israel di Tabernakel misalnya. Keindahan yang ditujukan melalui desain dan keterampilan di Tabernakel merupakan wujud dari karya seni yang dihasilkan bagi kemuliaan Allah.[18]
            Kesimpulan bahwa keindahan alam semesta merupakan bukan menceritakan keindahan alam itu sendiri tetapi menceritakan keindahan Allah, sebagaimana telah diungkapkan di atas, juga berlaku dalam karya seni yang dihasilkan oleh manusia. Karya seni yang dihasilkan oleh manusia pada dasarnya bukan untuk menceritakan betapa agung dan indanya manusia itu – sekalipun kita tidak dapat mengingkari bahwa manusia itu memang indah – tetapi menceritakan betapa agung dan indahnya Allah yang menciptakan manusia tersebut.

GEREJA DAN SENI
            Setelah kita memahami bagaiamana konsep seni sebagai mandat budaya, kita akan melihat bagaimana respons gereja terhadap seni. Di sini kita akan melihat bagaimana seharusnya gereja merespons seni dalam kehidupan bergereja. Di manakah tempat seni di dalam gereja, baik dalam pengajaran gereja maupun dalam partisipasinya untuk menghasilkan karya-karya seni sebagai salah satu wujud gereja melaksanakan mandat budaya yang diberikan Allah.
Pengaruh dan Perkembangan Seni dalam Kekristenan
            Untuk mengerti bagaimana gereja menempatkan seni dalam doktrin dan dalam kehidupan praktis, kita harus mulai dari jemaat mula-mula, kemudian perkembangan seni dalam Kekristenan sampai abad ke-21 ini. Sekalipun ada anggapan bahwa Kekristenan mula-mula tidak bersentuhan dengan seni, namun beberapa ahli setuju bahwa Kekristenan merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari seni, termasuk dalam Kekristenan mula-mula.[19]
            Seni dalam Kekristenan mula-mula teridentifikasi dari gambaran-gambaran visual yang dihasilkan sekita tahun 200an masehi, misalnya katakombe (kuburan bawah tanah) dan juga tempat-tempat pemakaman dari orang-orang Kristen.[20] Lebih lanjut Dyrness mengatakan bahwa, “Wall pantings contained shephered images, fish symbols, and athletes’ palms, and their presence was unobtrusive. Indeed, the meanings of such paintings were intentionally hidden from the outsiders.”[21] Dengan demikian dapat dikatakan bahwa seni dalam Kekristenan mula-mula dikembangkan dalam komunitas mereka atau dilakukan secara rahasia. Misalnya, hasil-hasil karya seni seperti ukiran-ukiran yang pembuatnya anonimus. Praktek ini disebut oleh Dietrich Bonhoeffer sebagai discipline of the secret.[22] Fenomena ini menandakan ciri seni yang berkembang dalam Kekristenan mula-mula.
            Pada abad ke-3 Kekristenan yang sudah lebih mapan sudah mulai memperlihatkan gambar-gambar pualam, walaupun gambar yang dimunculkan masih sama dengan abad ke-2. Kebebasan untuk merayakan dan mengekspresikan seni Kristen ditandai setelah Kekristenan menjadi agama resmi dari Kekaisaran Romawi pada konversi Constantine tahun 312.[23] Setelah itu Kekristenan terus memberi pengaruh dan mengembangkan seni dari zaman ke zaman. Pengaruh dan perkembangan seni Kristen seiring dengan perkembangan Kekristenan itu sendiri, yaitu sampi ke dunia Barat.
            Pada permulaan Renaissance sekitar tahun 1200 di Perancis menandai pembeharuan seni yang dipelopori oleh Eropa Barat. Hal ini terlihat dari bangunan-bangunan gereja yang sangat artisitik. Pada tahun 1144 pembungan gereja yang bergaya Gothic di kota paris merupakan salah wujud pembaharuan dalam seni Kristen. Gereja tersebut merupakan pandahulu dari Notre Dame Cathedral.[24] Ornamen-ornamen dan struktur bangunan gereja-gereja pada masa itu tidak hanya menunjukkan nilai seni yang tinggi yang dimiliki oleh orang Kristen, tetapi juga mengandung makna teologis. Misalnya, ornamen-oranamen yang melukiskan penghakiman terakhir yang di Amiens Cathedral.[25]
            Seni dalam Kekristenan terus berkembang dan memberi pengaruh sampai pada zaman reformasi bahkan pada abad ke-21 ini. Karya-karya seni yang dihasilkan mengandung implikasi-implikasi teologi yang sangat dalam. Namun pada akhir abad ke-20 penyebaran orang dan kelompok-kelompok menjadikan makna seni mengalami perubahan, yaitu lebih kepada refleksi seni yang digunakan melaui penyembahan dan signifikansi teologinya.[26]
            Terlepas dari perubahan makna-makna yang cara mengungkapkan seni dari zaman ke zaman, harus diakui bahwa Kekristenan dan gereja telah memberi kontribusi besar dalam mengembangkan karya seni sebagai salah satu mandat budaya. Sedikit banyak Kekristenan juga telah memberi pengaruh dalam dunia seni sehingga perkembangan seni tidak dapat terlepas dari Kekristenan.

Seni sebagai Panggilan Gereja
            Gereja sebagai wujud dari komunitas umat Allah di dunia ini dipanggil bukan hanya untuk diselamatkan melainkan juga untuk meneruskan mandat budaya yang sesuai dengan kehendak Allah di dunia ini. Sejak manusia jatuh ke dalam dosa, manusia telah kehilangan arah dalam menjalankan mandat budaya, termasuk dalam karya seni. Untuk itu gereja dipilih dan dipanggil oleh Allah untuk menjadi representasi dari pelaksanaan kehendak Allah lewat seni sebagai mandat budaya. Dunia tanpa gereja akan semakin membawa seni jauh dari dari rencana Allah semula bagi dunia ini dan jauh dari cerminan diri Allah sebagai Allah yang indah. Namun dengan kehadiran gereja, maka produksi karya-karya seni yang mencerminkan gambar dan rupa Allah dimungkinkan.
            Gereja, di tengah-tengah dunia dengan sekularismenya yang mencoba memberi makna-makna tersendiri terhadap seni, menghadapi tantangan yang sangat besar. Dunia dengan berbagai worldview yang ditawarkannya dapat membuat kita mengabaikan nilai seni yang harus selalu terkait dengan Allah, yang bukan hanya pencipta seni tetapi juga di dalalam diri-Nya sendiri memiliki nilai seni. Untuk itu gereja dipanggil untuk terus-menerus menanamkan worldview Kristen tentang seni sebagai mandat budaya sebagaimana telah dijelaskan panjang lebar sebelumnya. Gereja harus dapat secara genuine menujukkan worldview-nya yang memang berbeda dengan dunia yang berdosa ini. Hanya dengan cara demikianlah gereja dapat memberi pengaruh di dunia ini, dan dalam konteks ini khususnya seni sebagai mandat budaya, sebab gereja tidak dapat menawarkan ajaran dan tradisi-tradisinya secara murni jika sudah terkontaminasi oleh worldview dunia ini.

Seni bagi Kemuliaan Allah
            Dalam Katekismus Westminster dituliskan bahwa “Man’s chief end is to glorify God and to enjoy him forever.”[27] Tujuan penciptaan ini harus menjadi tujuan tertinggi dalam hidup kita. Tujuan hidup kita adalah untuk menikmati Allah, menikmati kasih dan keindahan-Nya. Selain menikmati Allah, tujuan hidup kita sesuai dengan tujuan penciptaan adalah untuk memuliakan Allah. Hal senada juga diungkapkan oleh rasul Paulus dalam Roma 11:36, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Paulus juga mengungkapkan tujuan hidup manusia adalah untuk memuliakan Allah ketika ia berkata, “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” (1 Kor. 10:31). Seluruh aspek kehidupan kita harus dikerahkan bagi kemuliaan Allah.
            Dengan demikian, jika seluruh aspek kehidupan kita adalah untuk memuliakan Allah, maka seni sebagai mandat budaya juga harus dipakai untuk memuliakan Allah. Sebagaimana umat Perjanjian Lama memiliki wawasan bahwa seni merupakan karya yang harus bertujuan bagia kemulian Allah, demikian juga harus dengan gereja hari ini. Jika umat Perjanjian Lama telah mewujudkan hal tersebut melalui Tabernakel dan Bait Allah,[28] lalu bagaimana dengan gereja hari ini.?
            Prinsip teologi tentang seni adalah bahwa seni itu dipergunakan untuk kepentingan atau kemuliaan Allah.[29] Konsep ini harus terus ditanamkan dalam teologi Kristen karena jika tidak kita dapat jatuh pada memberhalakan seni itu sendiri, karena harus diakui bahwa seni itu memiliki kekuatan untuk dijadikan berhala dalam kehidupan kita. Hal ini juga menjadi penting karena seni itu tidak dapat dilelepaskan dari kehidupan gereja, bahkan di dalam ibadah yang kita lakukan, kita dapat menemukan berbagai unsur seni. Unsur-unsur seni di dalam gereja kita dapati mulai dari bangunan-bangunan gereja yang memimiliki nilai seni sampai pada penyembahan dan ibadah yang kita lakukan yang penuh dengan nilai seni. Mulai dari unsur-unsur ibadah itu sendiri, misalnya nyanyian, tarian, drama, dan sebagainya, sampai pada sarana-sarana yang dipergunakan, seperti alat-alat musik.
            Pada dasarnya ini merupakan tugas gereja untuk mewujudkan sifat Allah yang indah di dalam kehidupan umat-Nya lewat gereja. Gereja harus dapat merancang satu ibadah yang tidak hanya merupakan ekspresi dalam penyembahan kepada Allah tetapi juga sebagai ekspresi seni yang merupakan mandat budaya.[30] Namun, semua ekspresi seni yang diungkapkan di dalam ibadah dan penyembahan kita, tujuannya hanya satu yaitu bagi kemuliaan Allah. Dengan kata lain seni merupakan wujud dari perayaan penciptaan dan Allah sebagai ciptaan.[31]

Penutup
            Dari pemaparan mengenai seni sebagai mandat budaya di atas, terlihat dengan jelas bahwa seni bukan merupakan bagian yang terpisah dari teologi Kristen, sebaliknya merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan satu dengan yang lain. Untuk itu pertanyaan mengenai apakah teologi dapat membenatu kita memahami pengalaman estetika dapat terjawab melalui penyajian di atas. Teologi tidak hanya memungkin tetapi harus dapat memberi pemahaman tentang pengalam estetika, karena pengalaman estetika (seni) merupakan bagian dari mandat budaya yang diberikan Allah kepada manusia sejak penciptaan. Dengan kata lain seni adalah panggilan yang harus diemban oleh setiap orang dan khususnya orang percaya dalam rangka mewujudkan tujuan penciptaan dalam dirinya.
            Dengan demikian – sebagai saran praktis – gereja harus mengembankan seni sebagai mandat budaya dengan menempuh berbagai cara, misalnya melalui pengajaran tentang pentingnya seni dalam kehidupan orang Kristen, baik melalui pembinaan-pembinaan maupun melalui khotbah-khotbah di atas mimbar. Gereja juga harus mampu mengakomodasi seni di dalam berbagai aspek, misalnya melalui bangunan gereja, musik dan ibadah yang memiliki nilai estetika.

Daftar Pustaka
Carson, D.A. dan John D. Woodbridge. eds. Allah dan Kebudayaan. Surabaya: Momentum,
2002.
Meeter, H. Henry. Pandangan-pandangan Dasar Calvinisme. Surabaya: Momentum, 2009.
Myers, Kenneth A. All God’s Children and Blue Suede Shoes: Christianity and Popular Culture.
Illinois: Crossway Books, 1989.
Moore, T.M. Culture Matters: A Call for Consensus on Christian Cultural Engagement. Grand
Rapids, Michigan: Brazos Press, 2007.
Treier, Daniel J. dan David Lauber Trinitarian. eds. Theology for the Church: Scripture,
Community, Worship. Downers Grove: IVP Academic, 2009.
 Bloesch, Donald G. God The Almighty: Power, Wisdom, Holiness, Love. Downers Grove:
InterVarsity Press, 1995.
Holmes, Peter R. Trinity in Human Community: Exploring Congregational Life in The Image of
the Social Trinity. Lynnwood Avenue: Paternoster Press, 2006.
Begbie, Jeremy S. The Beauty God: Theology and the Arts. Downers Grove, Illinois: IVP, 2007.
Hadi,  Y. Sumandiyo. Seni dalam Ritual Agama. Yogyakarta: Pustaka, 2006.
Gruchy, John W. De. Christianity, Art and Transformation. Cambridge: Cambridge University
Press, 2001.
Hartoko, Dick. Manusia dan Seni. Yogyakarta: Kanisius, 1984.
Dyrness, William A. Visual Faith: Art, Theology, and Worship in Dialogue. Grand Rapids,
Michigan: Baker Academic, 2001.
Williamson, G.I. The Westminster Short Catechism. New Jersey: P & R Publishing, 2003.
Schaefffer, Francis A. Art and the Bible. Downers Grove, Illinois: IVP, 1973.
Ryken, Philip Graham. Art for God’s Sake: A Call to Recover the Art. New Jersey: P & R
Publishing, 2006.
Goens, Linda M. Praising God Through the Lively Arts. Nashville: Abingdon Press, 1999.
Hall, David W. and Marvin Padgett. Calvin and Culture: Exploring A Worldview. New Jersey: P
& R Publishing, 2010.


[1] Edmun P Clowney, “Seni yang Hidup” dalam Allah dan Kebudayaan, eds. D.A. Carson dan John D. Woodbridge (Surabaya: Momentum, 2002), 282.
[2] H. Henry Meeter, Pandangan-pandangan Dasar Calvinisme (Surabaya: Momentum, 2009), 67.
[3] Kevin J. Vanhoozer, “Dunia Dipentaskan dengan Baik? Teologi, Kebudayaan, dan Hermeneutika” dalam Allah dan Kebudayaan, 2.
[4] Kenneth A. Myers, All God’s Children and Blue Suede Shoes: Christianity and Popular Culture (Illinois: Crossway Books, 1989), 27.
[5] Keenam cara pendekatan di atas merupakan ringkasan dari T.M. Moore, Culture Matters: A Call for Consensus on Christian Cultural Engagement (Grand Rapids, Michigan: Brazos Press, 2007), 12-14.
[6] T.M. Moore, Culture Matters: A Call for Consensus on Christian Cultural Engagement, 146.
[7] Edmun P Clowney, “Seni yang Hidup” dalam Allah dan Kebudayaan, 281.
[8] John R. Franke, “God Is Love: The Social Trinity and the mission of God,” dalam Trinitarian Theology for the Church: Scripture, Community, Worship, eds. Daniel J. Treier dan David Lauber (Downers Grove: IVP Academic, 2009), 111.
[9] Donald G. Bloesch, God The Almighty: Power, Wisdom, Holiness, Love (Downers Grove: InterVarsity Press, 1995), 184.
[10] Donald G. Bloesch, God The Almighty, 186. Bandingkan juga penjelasan perichoresis dalam Peter R. Holmes, Trinity in Human Community: Exploring Congregational Life in The Image of the Social Trinity (Lynnwood Avenue: Paternoster Press, 2006), 37-39.
[11] Jeremy S. Begbie, “Created Beauty” dalam The Beauty God: Theology and the Arts (Downers Grove, Illinois: IVP, 2007), 19.
[12] Jeremy S. Begbie, 22.
[13] Y. Sumandiyo Hadi,  Seni dalam Ritual Agama (Yogyakarta: Pustaka, 2006), 20.
[14] John W. De Gruchy, Christianity, Art and Transformation (Cambridge: Cambridge University Press, 2001), 111.
[15] John W. De Gruchy, 111.
[16] Edmun P Clowney, “Seni yang Hidup” dalam Allah dan Kebudayaan, 283.
[17] Dick Hartoko, Manusia dan Seni (Yogyakarta: Kanisius, 1984), 14.
[18] Edmun P Clowney, “Seni yang Hidup” dalam Allah dan Kebudayaan, 288.
[19] John W. De Gruchy, Christianity, Art and Transformation, 17.
[20] William A. Dyrness, Visual Faith: Art, Theology, and Worship in Dialogue (Grand Rapids, Michigan: Baker Academic, 2001), 26.
[21] William A. Dyrness, 26.
[22] William A. Dyrness, 26.
[23] William A. Dyrness, 27.
[24] William A. Dyrness, Visual Faith: Art, Theology, and Worship in Dialogue, 39.
[25] William A. Dyrness, 41.
[26] William A. Dyrness, 66.
[27] G.I. Williamson, The Westminster Short Catechism (New Jersey: P & R Publishing, 2003), 1.
[28] Hal ini secara panjang lebar dijelaskan dalam Francis A. Schaefffer, Art and the Bible (Downers Grove, Illinois: IVP, 1973), 20-30.
[29] Philip Graham Ryken, Art for God’s Sake: A Call to Recover the Art (New Jersey: P & R Publishing, 2006), 47.
[30] Linda M. Goens, Praising God Through the Lively Arts (Nashville: Abingdon Press, 1999), 17-18.
[31] William Edgar, “The Art and the Reformed Tradition” dalam Calvin and Culture: Exploring A Worldview (New Jersey: P & R Publishing, 2010), 63.

No comments: