"We were created to glorify God and to enjoy Him forever ..."

Tuesday, February 23, 2010

Berproses Dalam Pelayanan

2 Korintus 12:1-10

Di zaman yang serba instan ini banyak orang yang tidak senang dengan proses. Proses itu lama. Sementara orang-orang zaman sekarang sukanya serba cepat. Lebih cepat lebih baik. Memang ada banyak hal yang dengan kecanggihan teknologi bisa dipercepat oleh manusia, tetapi juga tidak bisa dipungkiri bahwa banyak hal yang harus berjalan dan dilalui melalui sebuah proses. Hidup itu sendiri adalah sebuah proses.

Pelayanan adalah sebuah proses. Ada proses-proses yang harus kita jalani dalam pelayanan. Mengapa perlu ada proses? Atau untuk apa proses itu? Proses itu perlu untuk membentuk karakter kita menjadi lebih dewasa di dalam Kristus sehingga pelayanan kita semakin lebih baik dan berkenan di hadapan Allah.

Perikop yang kita baca hari ini merupakan proses yang dihadapi oleh Paulus dalam pelayanannya. Dari sini kita belajar tiga hal yang bisa dipakai Tuhan supaya kita berproses dalam pelayanan. Tiga hal itu saya singkat menjadi 3K:

1. Komunitas
Tuhan tidak menempatkan kita seorang diri dalam pelayanan, tetapi Dia menempatkan kita dalam sebuah komunitas (jemaat). Tujuannya, karena ada proses-proses yang harus kita jalani di dalam kumunitas untuk membentuk kita. Ini dialami oleh rasul Paulus. Paulus diperhadapkan dengan jemaat yang memiliki berbagai pandangan dan tanggap mengenai pelayanannya. Pelayanannya sering dipuji, dan dihargai. Tetapi konteks perikop ini adalah diantara jemaat ada yang meragukan kerasulannya dan dia dianggap duniawi. Itulah sebabnya Paulus merasa perikop ini perlu ditulis untuk membuktikan keaslian kerasulan kepada orang-orang yang meragukannya. Ini adalah fakta yang tidak bisa dihindari oleh Paulus karena dia berada dalam kumunitas (jemaat).

Kalau kita melayani di gereja yang memiliki jemaat 500 orang, itu artinya kita berhadapan dengan 500 karakter yang berbeda. Di antara 500 itu mungkin ada yang senang memberi pujian ketika kita melayani, tetapi ada juga yang senang memberi kritikan. Kadang-kadang ditraktir, tetapi kadang-kadang juga ditraktor. Ada yang sangat percaya kepada kita, ada juga yang sangat meragukan kita. Ada yang menghargai pelayanan kita, tetapi tidak sedikit yang menganggap remeh. Ada kalanya diapresiasi, tetapi ada kalanya jg diamputasi. Namun, semuanya berguna untuk membentuk kita dalam pelayanan. Sama seperti kata amsal, ”Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.” (Ams. 27:17).

2. Kesuksesan
Kita sering mendengar perkataan bahwa kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Dari perkataan ini sebenarnya juga menunjukkan bahwa kesuksesan adalah kegagalan yang tertunda. Dengan demikian Tuhan memproses kita dalam pelayanan tidak selalu melalui kegagalan, tetapi juga lewat kesuksesan atau keberhasilan dalam pelayanan yang kita lakukan. Rasul Paulus dalam perikop ini menceritakan pengalaman rohaninya yang luar biasa yang juga menunjukkan satu keberhasilan dalam pelayanannya. Ia membuktikan bahwa ia bukanlah rasul yang biasa, tetapi rasul berhasil dengan sejumlah pengalaman yang istimewa. Kesuksesan pelayanan yang capai oleh rasul Paulus ini membawa dia sampai kepada pemahaman puncak, yaitu bahwa Allah yang ia layani adalah Allah yang benar dan maha kuasa. Bahkan pada satu kesempatan ketika orang-orang melihat kehebatan Paulus dalam pelayanannya, bersama Barnabas, dia pernah dianggap sebagai dewa dan orang-orang mau mempersembahkan korban kepadanya dan mau menyembah dia. Tetapi Paulus melarang mereka karena ia sadar bahwa dirinya hanyalah hamba dan yang patutu disembah adalah Allah. Keberhasilan yang ia alami justru semakin membuat dia sadar siapa dirinya di hadapan Allah.

Saudara-saudara, ketika kita mengalami kesuksesan dalam pelayanan, kita harus ingat bahwa itu adalah bagian dari proses yang harus kita jalani dari Tuhan. Lewat kesuksesan Tuhan ingin supaya kita menjadi orang yang rendah hati dan tidak sombong dalam pelayanan. Semakin kita sukses dalam pelayanan harusnya semakin kita rendah hati di hadapan Tuhan dan sesama.

Namun fakta yang seringkali kita lihat adalah banyak orang ketika sukses dalam pelayanan berubah fokus, bukan lagi Tuhan tetapi diri sendiri. Seringkali secara tidak sadar yang kita layani adalah diri kita sendiri, bukan lagi Tuhan. Yang kita beritakan dan kita saksikan diri dan kesuksesan kita, bukan lagi Tuhan. Maka tidak heran kalau di dalam gereja banyak orang yang lebih terkenal dari Tuhan Yesus karena yang lebih banyak diberitakan adalah dirinya sendiri, bukan Tuhan Yesus.

3. Kelemahan
Allah sangat senang memakai orang-orang lemah dalam pelayanan. Banyak contoh dalam Alkitab bagaimana Allah memakai orang-orang yang memiliki kelemahan untuk pekerjaan yang besar. Salah satunya adalah rasul Paulus. Kita tidak bisa pungkiri bahwa Paulus memiliki sejumlah kelebihan, namun dia juga memiliki kelemahan dalam dirinya. Kelemahannya itu ia sebut sebagai duri dalam daging. Kita tidak tahu persis maksud dari diri dalam daging tersebut. Ada yang mengatakan itu adalah penyakit epilepsi. Ada juga yang mengatakan penyakit mata. Namun apa pun itu, yang jelas penyakit itu membuat Paulus lemah dan terbatas dalam pelayanannya. Kelemahan Paulus ini telah memproses dia sehingga sampai pada satu kesadaran yang sangat dewasa, ”Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” (ay. 10).

Semua orang memiliki kelemahan. Sesungguhnya kita memiliki sejumlah kelemahan dan ketidaksempurnaan: fisik, emosi, intelektual dan rohani. Namun biasanya kita menyangkali kelemahan kita, membelanya, mancari dalih untuknya, menyembunyikannya dan membencinya. Sikap seperti ini tidak dapat membuat kita mengalami prosos menuju kepada kedewasaan karakter. Allah ingin kita sama seperti Paulus mengakui kelemahan-kelemahan kita. Berhentilah perpura-pura memiliki semuanya dan jujurlah pada diri kita sendiri. Daripada hidup dalam penyangkalan dan membuat alasan-alasan, ambilah waktu untuk mengenali kelemahan-kelemahan dalam diri kita.

Dengan menyadari kelemahan kita, membuat kita akan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan dan tidak lagi mengandalkan diri dalam pelayanan. Kuasa Tuhan dalam pelayanan nyata bukanlah ketika kita menunjukkan sejumlah kehebatan dan kelebihan kita, tetapi justru ketika kita melayani dalam kelemahan yang kita miliki. Kita tidak perlu maluatas kelemahan kita, tetapi justru sama seperti Paulus kita harus bermegah dalam kelemahan kita supaya kuasa Tuhan menjadi sempurna atas pelayanan yang kita lakukan.

Pelayan yang berkenan di hadapan Allah adalah pelayan yang setia menjalani proses dalam pelayanannya.

No comments: