"We were created to glorify God and to enjoy Him forever ..."

Friday, December 22, 2006

Firman Tuhan, Pahit Ternyata

Wahyu 10

“Lalu aku mengambil kitab itu dari tangan malaikat itu, dan memakannya: di dalam mulutku ia terasa manis seperti madu, tetapi sesudah aku memakannya, perutku menjadi pahit rasanya.” (Why. 10:10)

Kita biasa melukiskan atau menggambarkan firman Tuhan sebagai sesuatu yang indah. Bukankah seringkali kita berkata, wah, firman-Mu indah sekali, sungguh ajaib, menakjubkan, memberi kekuatan, penghiburan, dan berbagai istilah lain untuk melukiskan betapa indahnya firman Tuhan. Ini tidak salah, benar sekali. Bukankah banyak catatan Alkitab yang menunjukkan bahwa firman Tuhan itu sangat indah. Firman-Mu pelita bagi kakiku, terang bagi jalanku, firman-Mu memberi sukacita, dan masih banyak lagi gambaran Alkitab tentang keindahan firman Tuhan. Namun ada sisi lain dari firman Tuhan jika kita sungguh-sungguh mencerna dan melakukannya. Jika firman Tuhan sungguh-sungguh kita cerna dan lakukan mungkin kita akan berkata, wah, ternyata susah, menyakitkan, terlalu berat, terlalu tajam. Firman-Mu, pahit ternyata.

Ada dua tokoh dalam Alkitab yang pernah memakan gulungan kitab, yaitu Yehezkiel dan Yohanes dalam perikop ini. Tentunya memakan gulungan kitab di sini hanya merupakan simbol, yaitu membaca, mencerna secara rohani dan menjadikan firman Tuhan itu sebagai bagian dari hidupnya. Yang menarik di sini adalah bahwa ketika Yohanes memakan kitab itu, di mulutnya terasa manis tetapi perutnya menjadi pahit rasanya (ay. 10). Apa yang mau disampaikan di sini? Kenapa kitab itu terasa manis di mulutnya, tetapi terasa pahit di perutnya? Ini menunjukkan bahwa firman Allah memberikan sukacita waktu menerimanya, tetapi firman itu sendiri mengandung penghakiman dan kritik tentang hidup manusia yang terasa amat pedih. Artinya, bahwa firman Tuhan itu mengandung teguran, nasehat, bahkan kritikan dalam hidup kita dan kalau kita benar-benar mau melakukannya mungkin akan terasa sakit, berat, bahkan pahit. Bahkan ketika Yohanes memberitakan firman itu juga terasa pahit karena ia harus memberitakan tentang penghakiman Allah.

Apakah Saudara sedang merasa bahwa firman Tuhan terasa berat dan sulit untuk dilakuakn? Jika ya, berarti Saudara sedang berada dalam keadaan benar dan masih peka terhadap firman-Nya. Namun pilihan ada di tangan Saudara. Mau memilih untuk tetap melakuakn firmannya, walaupun Saudara tahu akan sakit, sulit, berat, dan pahit. Atau Saudara tetap hanya menjadikannya sebagai penghibur dan pemuas telinga. Hanya mau bagian yang enak saja, tetapi menghindari bagian yang pahitnya. Pilihan di tangan Saudara!

Kita tidak akan melakukan firman Tuhan seutuhnya tanpa merasakan bagian pahitnya.

No comments: