"We were created to glorify God and to enjoy Him forever ..."

Saturday, April 28, 2007

Tempat Yang Tenang

Mazmur 62

“Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku.” (Mzm. 62:2)

Dalam situasi zaman yang semakin bergejolak ini, susah untuk mendapatkan tempat yang aman. Di mana pun di dunia ini, tidak ada satu tempat yang benar-benar tenang yang bisa membuat kita merasa aman. Kita bisa tidak aman dari teroris, bencana alam, wabah penyakit, dan masih banyak lagi. Bahkan, begitu banyaknya perusahaan asuransi jiwa dan orang yang mau membeli asuransi jiwa, membuktikan bahwa di dunia ini tidak ada tempat yang tenang dan aman. Boleh dikatakan bahwa dunia ini semakin hari semakin tidak bersahabat dengan manusia. Di tengah-tengah situasi seperti ini, masihkan ada tempat yang tenang buat kita?

Dalam Mazmur 62 ini, Daud mengungkapkan bahwa masih ada satu tempat yang tenang dan dapat menjadi tempat perlindungan bagi manusia. Membuka perikop ini Daud berkata, “Hanya dekat Allah saja aku tenang … Allah ialah tempat perlindungan kita” (ay. 1 dan 9). Kalau kita memperhatikan perjalanan kehidupan Daud, dunia ini bukanlah tempat yang aman dan tenang baginya. Mulai ketika ia diangkat menjadi raja atas bangsa Israel, bahkan sampai akhir hidupnya, dunia dan orang-orang yang ada disekitarnya selalu membuat hidupnya dalam ancaman yang membahayakan jiwanya. Ancaman yang dihadapi oleh Daud bukan hanya dari musuh-musuhnya, bahkan juga dari orang yang ia kasihi. Namun, di tengah situasi semacam ini, Daud menemukan bahwa masih ada tempat yang aman dan tenang, yaitu dekat Allah. Hanya orang-orang yang dekat dengan Allah yang mendapatkan ketenangan dalam hidupnya.

Apakah Saudara sedang mencari ketenangan? Apakah Saudara sedang bingung dan kuatir karena tidak menemukan ketenangan dalam hidup Saudara? Apakah Saudara masih mengharapkan ketenangan dari dunia ini? Mari kita belajar dari Daud. Daud menyadari bahwa dunia dan segala yang ada di dalamnya, bahkan kekayaan dan kuasa tidak dapat memberikan ketenangan dalam hidupnya. Daud percaya sepenuhnya bahwa hanya ada satu tempat yang tenang, yaitu dekat dengan Allah. Saudara janganlah menaruh harapan pada dunia ini. Jangan menggantungkan ketenangan Saudara pada harta, kuasa, dan pada segala sesuatu yang Saudara miliki di dunia ini, karena cepat atau lambat semuanya akan membuat Saudara kecewa. Namun, dekatlah dengan Allah, sehingga Saudara memperoleh ketenangan yang sejati. Dekatlah dengan Allah dalam doa, saat teduh, pelayanan, dan seluruh aspek hidup Saudara.

Ketengan sejati adalah bukan menghindari masalah, tetapi mendekat pada Allah.

Tuesday, April 24, 2007

Dengan Allah ...!

Mazmur 60

“Dengan Allah akan kita lakukan perbuatan-perbuatan gagah perkasa, sebab Ia sendiri akan menginjak-injak para lawan kita.” (Mzm. 60:14)

Dengan apa atau dengan siapa kita menjalani hidup kita, akan menentukan bagaimana kita hidup. Jika kita hidup dengan kekuatan kita sendiri, dengan diri kita sendiri, dengan kekayaan kita, maka dapat dipastikan hidup kita akan berakhir tanpa kemenangan, karena apa yang kita miliki tidak sanggup untuk menopang kita dalam menghadapi hidup ini. Tetapi, jika kita hidup dengan Allah, kemenangan demi kemenangan kita akan rasakan dan dan nikmati. Inilah yang dialami oleh Daud dalam hidupnya. Walaupun hidupnya penuh dengan masalah, tetapi kemenangan tidak pernah lepas dari hidupnya.

Yang menjadi pertanyaan adalah apa yang membuat Daud selalu menang dalam hidupnya? Selama hidupnya, Daud tidak pernah melakukan susuatu dalam mengahadapi musuhnya dengan kekuatannya sendiri. Bahkan ketika ia menang menghadapi masalah pun, ia tidak berkata bahwa ia melakukannya dengan kekuatannya. Waktu ia menghadapi Goliat, dia tidak berkata aku datang dengan kekuatanku, tetapi ia berkata, “… aku mendatangi engkau dengan nama Tuhan semesta alam …” (1 Sam. 17:45). Demikian juga di dalam perikop ini, ketika ia memerangi orang Aram – Mesopotamia dan orang Aram – Zoba, dia berdoa dan berseru kepada Allah supaya ia bisa memerangi mereka dan memperoleh kemenangan. Dan di akhir doanya ia berkata, “Dengan Allah akan kita lakukan perbuatan-perbuatan gagah perkasa, sebab Ia sendiri akan menginjak-injak para lawan kita” (Mzm. 60:14). Akhirnya, Daud memperoleh kemenangan menghadapi musuhnya. Rahasianya adalah Daud menjalani hidupnya selalu bersama dengan Allah.

Hidup orang Kristen sebenarnya adalah hidup yang tidak dapat berjalan sendiri. Hidup orang Kristen harus selalu berjalan bersama dengan Yesus Kristus, karena Dia adalah Tuhan atas hidup kita. Namun, acapkali kita mau berjalan sendiri dengan kekuatan dan dengan apa yang kita miliki. Hidup yang seperti ini adalah hidup yang tanpa kemenangan dan akan berakhir dengan kesedihan. Untuk itu, seharusnya dalam menjalani hidup ini kita harus berkata, dengan Allah aku hidup. Dengan Allah aku menghadapi masalah. Dengan Allah aku menjalani usaha, bisnis, atau pekerjaanku. Dengan Allah aku membangun keluargaku. Dengan Allah aku melakukan pelayananku. Semuanya, dengan Allah …!

Dengan Allah kemenangan di pihak kita.

Monday, April 23, 2007

Jika Tuhan Tertawa

Mazmur 59

“Tetapi Engkau, TUHAN, menertawakan mereka, Engkau mengolok-olok segala bangsa.”(Mzm. 59:9)

“Pada saat Anda dilahirkan ke dunia, Allah ada di sana sebagai saksi yang tak kelihatan, tersenyum atas kelahiran Anda.” Pernyataan ini adalah kutipan dari bukunya Rick Warren, The Purpose Driven Life, hal. 69. Salah satu tujuan kita lahir dan ada di dunia adalah untuk membuat Allah senang, supaya Allah tersenyum dan bahkan tertawa melihat hidup kita. Tetapi apa jadinya jika Allah tertawa bukan karena senang melihat hidup kita? Apa jadinya jika Allah tertawa dengan sinis oleh karena murkanya melihat kejahatan kita?

Tidak dapat digambarkan lagi masalah yang dihadapi oleh Daud. Ancaman yang dia hadapi dari Saul bertubi-tubi. Kali ini Saul menyuruh orang mengawasi dan mengamat-amati rumahnya untuk membunuh dia (ay. 1, bnd. 1 Sam. 19:11). Namun, semakin dia dalam bahaya, semakin dia berseru dan berharap pada Tuhan. Yang luar biasa adalah justru ketika dalam bahaya inilah dia menyaksikan Allah selalu dipihaknya dan orang-orang yang memusuhinya selalu tidak berdaya dibuat oleh Allah. Dalam perikop ini, Daud menyaksikan Allah tertawa melihat musuh-musuhnya. Tertawa bukan karena senang, tetapi tertawa sinis karena kejahatan mereka terhadap Daud. Sekali lagi, oleh pertolongan dan kasih setia Tuhan, Daud merayakan kemenangannya atas musuh-musuhnya. Ini bukan semata-mata karena kehebatan Daud, tetapi karena dia berharap dan berserah penuh kepada Tuhan.

Hari ini, jika Allah tertawa melihat kita, Dia tertawa karena apa? Ada dua pelajaran yang dapat dipetik dari kisah Daud dan musuh-musuhnya ini. Pertama, dari sisi Daud, mari kita belajar seperti Daud yang terus berhaharap dan berserah penuh kepada Tuhan. Semakin ada masalah, semakin berdekat dengan Tuhan. Semakin tinggi pencobaan yang kita alami, semakin tinggi kita harus melangkah bersama Tuhan. Kalau ini kita lakukan, Tuhan akan senang dan tersenyum manis melihat kita. Kedua, dari sisi musuh-musuh Daud, mari kita mengoreksi diri kita. Jangan sampai Tuhan tertawa sinis karena murkanya melihat hidup kita yang jahat, yang terus mengeraskan hati dan tidak mau berbalik dari kehidupan kita yang lama, yang tidak berkenan dengan Allah. Marilah kita membuat Allah senang, tersenyum manis, bahkan tertawa melihat hidup kita.

Allah tersenyum ketika kita menaati Dia dengan sepenuh hati – Rick Warren.

Saturday, April 21, 2007

Manusia Setengah Dewa

Mazmur 58

“Sungguhkah kamu memberi keputusan yang adil, hai para penguasa? Apakah kamu hakimi anak-anak manusia dengan jujur?” (Mzm. 58:12)

Masih terniang di telinga kita salah satu lagu yang dinyanyikan oleh Iwan Fals, berjudul “Manusia Setengah Dewa”. Lagu ini sempat menjadi sorotan publik, karena dituntut oleh salah satu agama di Indonesia yang dinilai melecehkan agama tersebut. Namun, bukan masalah ini yang mau saya soroti. Yang perlu kita lihat adalah isi lagu ini, yaitu suara hati rakyat terhadap penguasa (sang Presiden yang baru), supaya memperhatikan rakyat dan menegakkan keadilan. Bahkan, begitu langkanya hal tersebut, sampai-sampai jika sang Presiden baru itu bisa mewujudkan suara hati rakyat, maka akan dijadikan manusia setengah dewa. Walaupun tidak seekstrim Iwan Fals, Daud juga pernah menyerukan supaya penguasa bisa menegakkan keadilan.

Ketika Daud melihat ketidakadilan yang dilakukan oleh penguasa, Daud bereaksi dan menyerukan keadilan terhadap penguasa. Daud tidak tahan melihat ketidakadilan penguasa. Mereka menghakimi dengan tidak jujur, melakukan kejahatan, bahkan menjalankan kekerasan di bumi. Maka sebagai orang yang diurapi Tuhan, Daud berteriak kepada penguasa yang tidak menjalankan fungsinya dengan baik. Daud tidak sabar melihat orang benar diperlakukan tidak adil, sedangkan orang-orang fasik berpesta dalam kesesatan mereka. Sikap Daud ini merupakan sikap yang tepat sebagai orang yang diurapi Tuhan. Sikap ini mewakili sikap umat Tuhan ketika melihat penguasa tidak menjalankan tugasnya dengan benar. Dalam Roma 13 dikatakan bahwa pemerintah merupakan hamba atau wakil Allah di bumi, namun umat Allah adalah sebagai hamba atau wakil Allah untuk mengawasi pemerintah.

Bagaimana dengan kita? Ketika kita melihat pemerintah tidak menjalankan tugas dengan benar, siapa yang duluan berteriak? Iwan Fals atau orang Kristen? Kita tidak perlu ekstrim seperti Iwan Fals, tetapi paling tidak kita peduli terhadap ketidakadilan. Kepedulian kita tidak harus dengan mendirikan partai Kristen atau turun ke jalan-jalan untuk demo. Marilah kita mulai dengan melakukan keadilan itu sendiri. Mari kita memberikan teladan kepada pemerintah. Melalui perusahaan, rumah tangga, gereja, kita wujudkan keadilan. Jangan sampai di dalam perusahaan kita, keluarga kita, gereja kita, keadilan menjadi barang yang langka. Kita tidak perlu menjadi manusia setengah dewa, tetapi jadilah manusia utuh yang di dalamnya ada kebenaran dan keadilan.

“Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir” (Amos 5:24)

Friday, April 20, 2007

Senjata Makan Tuan

Mazmur 57

“Mereka memasang jaring terhadap langkah-langkahku, ditundukkannya jiwaku, mereka menggali lobang di depanku, tetapi mereka sendiri jatuh ke dalamnya.”(Mzm. 57:7)

“Senjata makan tuan”. Siapa yang tidak mengerti arti ungkapan ini. Saya yakin setiap kita mengerti arti ungkapan ini. Ungkapan ini ditujukan kepada orang yang dicelakai oleh senjatanya sendiri, atau orang yang jatuh ke dalam perangkap yang dibuatnya sendiri. Yang menarik adalah ungkapan ini juga dipakai oleh Daud untuk menggambarkan musuh-musuhnya. Walaupun istilah yang dipakai berbeda, namun mengandung makna yang sama. Daud mengatakan, “… mereka menggali lobang di depanku, tetapi mereka sendiri jatuh ke dalamnya” (Mzm. 57:7). Ini adalah gambaran orang-orang yang ingin menjatuhkan atau mencelakai orang benar.

Perikop ini masih merupakan rangkain dari mazmur Daud dalam menghadapi musuh-musuh yang mengejar-ngejarnya. Secara khusus bagian ini adalah mazmur Daud ketika ia lari dari Saul ke dalam gua (ay. 1). Kalau kita melihat gambaran yang dipakai oleh Daud untuk mendeskripsikan keadaan yang sedang ia hadapi (ay. 5), seolah-olah dia sedang berada di bawah bayang-bayang maut. Namun, Daud selalu mengadalkan Tuhan dan hanya bersandar pada Tuhan. Di bawah bayang-bayang maut ia berseru kepada Tuhan dan Tuhan menolongnya. Ternyata maut pun tidak berdaya terhadap Tuhan, karena kemuliaan-Nya mengatasi seluruh bumi (ay. 6). Bahkan rencana jahat yang dibuat oleh musuh-musuh Daud, menimpa diri mereka sendiri. Lobang yang mereka buat untuk menjatuhkan Daud, menjadi perangkap bagi mereka sendiri. Ini adalah bukti pemeliharaan Tuhan terhadap Daud dan umat-Nya.

Sama seperti Daud, kita juga adalah umat Allah. Apa yang dialami oleh Daud, dapat juga kita alami pada saat ini. Dalam menjalani hidup kita sebagai orang Kristen, kita mungkin mengalami berbagai tantangan. Kita diperlakukan tidak adil karena iman kita, kita dicurangi, didiskreditkan, dintimidasi, dimusuhi, dan berbagai perlakukan jahat karena iman kita. Ingatlah, semua itu tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan kemuliaan Tuhan yang mengatasi bumi. Kita harus berpegang pada janji pemeliharaan Tuhan terhadap umat-Nya. Cepat atau lambat, kita akan menyaksikan kemenangan orang-orang percaya atas maut dan musuh-musuhnya. Marilah kita menantikannya dengan sabar, tekun dan tetap teguh di dalam Tuhan.

Bersama Tuhan, maut pun tidak berdaya.

Thursday, April 19, 2007

Siapa Takut ...!!!

Mazmur 56

“Kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” (Mzm. 56:12)

“Pakai hitam, siapa takut …?” Slogan ini mengingatkan kita pada iklan salah satu produk shampoo di televisi. Slogan ini menyampaikan satu pesan bahwa dengan memakai shampoo tersebut, rasa takut memakai baju hitam akibat ketombe akan hilang. Dengan shampoo rasa takut menjadi hilang. Sayangnya, shampoo di dalam iklan ini hanya bisa mengusir rasa takut dari memakai baju hitam. Bagaimana kalau rasa takut itu karena musuh, kesusahan dan berbagai pergumulan hidup? Shampoo merek apa pun tidak dapat mengusir rasa takut yang satu ini. Kita akan melihat bagaimana Daud mengusir rasa takutnya ketika dia mengalami kesusahan hidup, sehingga ia berani berkata “aku tidak takut”.

Di dalam perikop ini Daud menceritakan kesusahan yang dia alami yang membuat ia takut. Daud mendeskripsikan rasa takutnya menghadapi musuh yang begitu dahsyat. Dia mengatakan bahwa orang-orang menginjak-injaknya, sepanjang hari orang memerangi dan mengimpitnya (ay. 2). Bahkan, Daud menggambarkan musuh-musuhnya itu seperti orang yang ingin mencabut nyawanya (ay. 7). Perikop ini merupakan nyanyian Daud ketika orang Filistin menangkap dia di Gat. Waktu itu ia melarikan diri dari ancaman Raja Saul ke Gat. Ironisnya, ketika sampai di Gat, dia bertemu dengan musuh lain, yaitu orang-orang Filistin. Keadaan yang dialami oleh Daud ini mungkin bisa digambarkan dengan peribahasa yang mengatakan, “sudah jatuh, ketimpa tangga”. Kacian deh loe ...! Mungkin begitulah komentar musuh-musuhnya seandainya itu terjadi saat ini di Indonesia. Di dalam ketakutan seperti ini tercetus uangkapan iman dari Daud, “aku tidak takut”. Kunci ketidaktakutan Daud tidak terletak pada dirinya, bukan karena kepahlawanannya, tetapi karena imannya kepada Allah. Daud percaya diri bukan karena memakai shampoo, tetapi karena percaya Tuhan.

Apakah Saudara sedang takut? Mengakui atau tidak mengakui, menerima atau tidak menerima, hidup ini penuh dengan ketakutan-ketakutan. Takut gagal, takut kebutuhan tidak tercukupi, takut usaha bangkrut, takut di tolak, takut tidak naik kelas, takut menghadapi kenyataan, takut mati, dan sejumlah ketakutan lainnya. Namun, kita jangan pasrah pada rasa takut. Mari kita belajar dari Daud, yang mengusir segala rasa takutnya dengan percaya pada Tuhan. Bersama dengan Tuhan, mari kita menjalani hidup kita dengan slogan “siapa takut …?

Orang yang mau percaya diri, harus percaya Tuhan.

Tuesday, April 17, 2007

Hanya Untuk Sementara

Mazmur 55

“Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah.” (Mzm. 55:23)

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemukan orang-orang yang berbuat jahat dan melakukan kecurangan seolah-olah lebih berhasil atau sukses dibandingkan dengan orang yang melakukan kebenaran. Tidak jarang kita, sebagai orang Kristen iri melihat orang-orang di luar Tuhan yang berbuat curang lebih berhasil dari kita. Bahkan, kenyataan ini menimbulkan pertanyaan yang selalu dipertanyaakan sepanjang abad, yaitu: kalau Allah baik, mengapa ada kejahatan dan orang jahat, serta membiarkan orang benar mengalami penindasan, kegagalan, kemiskinan, dan sebagainya. Ironisnya, kenyataan ini pula telah membuat sebagian orang menyimpulkan bahwa tidak ada Allah atau tidak ada Allah yang baik. Hal ini terjadi karena cara mereka memandang masalah, penindasan, kegagalan, kesesakan yang dialami oleh orang percaya berbeda dengan cara Daud memandangnya.

Daud, di sepanjang hidupnya tidak pernah luput dari masalah, penderitaan, ketakutan dan badai hidup. Sejak ia diurapi menjadi raja sampai masa tuanya, dia diperhadapkan dengan berbagai masalah, bahkan maut. Dalam perikop ini pun, dia mengungkapkan betapa beratnya pergumulan yang ia hadapi. Dia mengembara dan menangis karena cemas menghadapi musuhnya, hatinya gelisah karena kengerian maut yang menimpanya, bahkan dia merasa takut dan gentar karena begitu beratnya pergumulan yang ia hadapi. Namun, di tengah pergumulan yang dahsyat ini, ia mencetuskan pernyataan imannya, “Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah” (Mzm. 55:23). Daud memandang dengan penuh keyakinan bahwa pergumulan dan penderitaan yang dihadapi oleh orang benar, hanyalah sementara sifatnya, tidak untuk selamanya. Hal ini juga sekaligus meneguhkan satu kenyataan bahwa kesuksesan orang-orang jahat yang berbuat curang, hanyalah sementara, tidak untuk selamanya.

Hari ini mungkin kita tertindas oleh karena status kita sebagai orang Kristen. Kita tidak naik jabatan karena iman kita. Kita mengalami kerugian karena melakukan kebenaran. Kita juga melihat rekan kita lebih sukses karena kecurangannya. Ingatlah, bahwa semua itu hanya sementara. Bahkan, Daud sendiri pernah berkata, “Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang; sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau” (Mzm. 37:1-2).

Lebih baik penderitaan yang sementara daripada kesuksesan semu.

Saturday, April 14, 2007

Ketika Tidak Ada Yang Berpihak

Mazmur 54

“Sesungguhnya, Allah adalah penolongku; Tuhanlah yang menopang aku. Biarlah kejahatan itu berbalik kepada seteru-seteruku; binasakanlah mereka karena kesetiaan-Mu!”(Mzm. 54:6-7)

Pernahkan Saudara berada dalam situasi di mana semua orang tidak ada yang berpihak pada Saudara? Rasanya tidak ada lagi harapan, kita sendirian, dan tidak ada tempat yang bisa kita andalkan untuk berlindung. Jika kita diperhadapkan dengan situasi seperti ini, apakah yang akan kita lakukan? Masihkan kita berharap di tengah situasi tanpa harapan seperti ini? Ataukah kita menjadi putus asa dan menyalahkan Tuhan? Situasi semacam ini pernah dialami oleh Daud. Hari ini kita akan belajar dari apa yang dilakukan oleh Daud dalam menghadapi situasi ini.

Perikop yang kita baca hari ini adalah doa Daud dalam persembunyiannya di padang gurun Zif, ketika Raja Saul mengejar-ngejarnya. Pada saat itu Raja Saul membenci dan mau membunuh Daud karena iri hati (1 Sam. 18:6-30). Untuk itu Daud melarikan diri dari hadapan Raja Saul dan bersembunyi di tempat-tempat yang lebih aman. Namun, tempat-tempat Daud bersembunyi ternyata tidak ada yang aman. Bahkan ketika dia di padang gurun Zif, orang-orang Zif pun tidak bersahabat dengannya. Mereka melaporkan keberadaan Daud di sana. Rasanya tidak ada tempat untuk bersembunyi dan tidak ada orang yang berpihak pada Daud. Namun, Daud tidak putus asa, dia terus berharap di tengah situasi tanpa harapan itu. Dia tetap berdoa dan berharap pada Tuhan. Dia tidak mengeluh dengan keadaan yang sedang ia hadapi, tetapi dia percaya pada kesetiaan Allah. Di dalam situasi tanpa pertolongan, Daud tetap percaya bahwa Tuhan adalah pertolongan dan penopangnya. Bahkan di tengah kesulitan, Daud tetap bersyukur kepada Tuhan. Buah pengharapan Daud ini adalah dia terluput dari Saul dan orang-orangnya yang mau membunuhnya (1 Sam. 23:27-28).

Pergumulan yang kita hadapi berbeda-beda. Mungkin saat ini kita sedang bergumul dengan usaha atau pekerjaan. Kita merasa sendiri dalam menghadapi masalah dalam usaha atau pekerjaan. Merasa sendiri dalam menghadapi masalah keluarga. Tidak ada yang bisa kita andalkan, bahkan orang-orang yang ada di dekat kita. Rasanya tidak ada harapan lagi. Namun, ingatlah bahwa di tengah kesendirian, Tuhan memberi pertolongan dan di tengah situasi tanpa harapan, Tuhan memberi pengharapan.

Ketika tidak ada yang berpihak pada kita, Allah tetap di pihak kita.

Thursday, April 12, 2007

Manusia Bodoh

Mazmur 53

“Orang bebal berkata dalam hatinya: "Tidak ada Allah!" Busuk dan jijik kecurangan mereka, tidak ada yang berbuat baik.” (Mzm. 53:2)

Seorang atheis bernama F. Nietsche pernah membuat pamflet terkenal yang berbunyi, “Tuhan telah mati! Tertanda: Nietsche.” Kemudian, pada waktu ia mati, di sebuah tembok dekat kuburannya tertulis, “Nietsche telah mati! Tertanda: Tuhan.” Ketika kita mendengar istilah “manusia bodoh”, kemungkinan yang terlintas di dalam pikiran kita adalah orang yang tidak sekolah, tidak berpendidikan, tidak pintar berbisnis, tidak fasih berbicara, dan sejumlah konotasi negatif lainnya. Namun, menurut Alkitab orang bodoh bukan tidak sekolah atau berpendidikan. Orang bodoh menuut Alkitab adalah orang-orang seperti Nietsche yang menganggap Allah tidak ada, bahkan mati.

Dalam Mazmur 53:2, pemazmur berkata: “Orang bebal berkata dalam hatinya: Tidak ada Allah!” Dalam ayat ini, kata bebal dalam bahasa aslinya dapat diterjemahkan bodoh. Jadi orang bebal di sini menunjuk pada orang bodoh. Menurut pemazmur, orang-orang yang berkata dalam hatinya “tidak ada Allah”, itu adalah orang-orang bodoh. Dikatakan, “dalam hatinya”. Itu berarti bukan hanya sesuatu yang tercetus di dalam ucapan, tetapi yang sungguh-sungguh terencana di dalam hati. Dengan kata lain, sengaja meniadakan Allah dalam hidupnya. Orang-orang seperti ini beranggapan bahwa mereka mampu tanpa Allah. Mereka pikir diri mereka terlalu hebat dan pintar, sehingga Allah tidak perlu dalam hidup mereka. Ironisnya, justru Alkitab menyebut mereka ini adalah orang bodoh. Orang-orang seperti ini dalam ayat 6 dikatakan, mereka akan ditimpa kekejutan oleh murka Allah dan akan dipermalukan oleh Allah.

Sadar atau tidak sadar, mengakui atau tidak mengakui, acapkali kita menjadi orang bodoh seperti kata pemazmur. Kita bodoh bukan karena kita tidak memiliki pengetahuan. Kita mungkin memiliki pengetahuan yang baik tentang Allah, kita bisa mendeskripsikan Allah dengan tepat. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah apakah kita melibatkan Allah di dalam hidup kita. Adakah kita melibatkan Allah di dalam usaha kita, sekolah kita, rumah tangga kita, masa depan kita? Adakah kita memulai segala sesuatu dengan melibatkan Allah di dalamnya? Orang yang tidak melibatkan Allah di dalam hidupnya adalah orang yang menganggap di dalam hatinya tidak ada Allah, dan orang seperti ini disebut ”manusia bodoh”.

Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya daripada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat daripada manusia (1 Kor. 1:25).

Wednesday, April 11, 2007

MISI SEBAGAI PENGGENAPAN TUJUAN PENCIPTAAN

Ketika berbicara tentang misi, pada umumnya kita akan beranjak dari perintah-perintah Tuhan Yesus dalam Perjanjian Baru kepada murid-murid dan gereja-Nya. Kita beranggapan bahwa misi itu dimulai ketika Tuhan Yesus berkata, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku; kamu akan menjadi saksi-Ku ... sampai ke ujung bumi, dan masih banyak lagi perintah-perintah sejenisnya. Ini sama sekali tidak salah. Perintah-perintah itu memang memberikan peneguhan bagi setiap kita untuk menjalankan misi Tuhan di bumi ini. Namun pernahkah kita berpikir bahwa sebenarnya misi yang diberikan Tuhan kepada kita sudah dimulai ketika Allah menciptakan manusia?

Saya ingin mengajak kita bernostalgia sejenak. Kita kembali ke Taman Eden, ketika manusia pertama diciptakan. Pertanyaan klasik yang akan muncul ketika kita mengingat penciptaan adalah apakah tujuan Allah menciptakan manusia? Allah menciptakan manusia dengan tujuan bukan hanya untuk memuliakan Allah, tetapi juga untuk menikmati Allah dan berpartisipasi dalam karya-Nya. Maka manusia diciptakan sebagai makhluk eskatologis (Rom. 8:29-30), yaitu makhluk yang mempunyai tujuan dan mencapai tujuan tersebut. Adam diciptakan bukan sebagai finished project, karena Adam sekalipun belum berdosa tetap memasuki proses untuk menunjukkan kepatuhan kepada Allah. Hal ini terlihat jelas ketika manusia selesai diciptakan, perintah pertama yang diberikan Allah kepada manusia bukan perintah untuk memuliakan dia, tetapi, ”... Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” (Kej. 1:28).

Dengan demikian, tujuan Allah menciptakan kita bukan sekedar memuliakan Dia, seolah-olah Allah kekurangan kemuliaan sehingga perlu menciptakan manusia untuk memuliakan-Nya. Allah justru menciptakan kita dengan tujuan mulia, yaitu supaya kita ambil bagian (berpartisipasi) di dalam karya ciptaan-Nya. Ketika Allah menciptakan alam semesta ini, Dia punya misi dan manusialah yang dipakai Allah untuk menjadi wakil-Nya (agen-Nya) menjalankan misi itu di bumi. Maka misi Tuhan yang kita jalankan pada dasarnya merupakan mandat Allah yang sudah Ia tetapkan sejak manusia diciptakan.

Bahkan kalau kita maju selangkah lagi, yaitu ketika manusia jatuh ke dalam dosa, sebenarnya Allah bisa bertindak sendiri untuk menyelamatkan manusia dari dosa yang membawa maut itu. Namun kalau kita perhatikan, Allah dalam rencana menyelamatkan manusia, Dia selalau memakai manusia untuk terlibat di dalamnya. Pada zaman Perjanjian Lama Allah memakai bangsa Israel dan nabi-nabi-Nya dan pada zaman Perjanjian Baru Tuhan memakai para Rasul, sedangkan pada zaman ini Tuhan memakai kita semua. Ini adalah satu penghargaan yang sangat mulia yang diberikan Allah kepada manusia. Manusia yang diciptakan dari debu tanah, dari sesuatu yang hina, diangkat Allah menjadi rekan kerja-Nya. Sayangnya, hubungan ini menjadi rusak akibat kejatuhan manusia ke dalam dosa.

Kemudian ketika Tuhan Yesus datang ke dunia dan memberikan Amanat Agung, apakah dengan demikian misi penciptaan itu tidak berlaku lagi? Jawabannya adalah tidak. Justru Amanat Agung Tuhan Yesus itu adalah kelanjutan dari misi penciptaan. Bahkan Ketika Tuhan Yesus datang ke dunia dan menyelamatkan manusia, tujuan penyelamatan itu adalah membawa manusia kembali kepada tujuan penciptaan atau kepada kondisi di Taman Eden sebelum manusia jatuh ke dalam dosa. Dengan kata lain tujuan keselamatan yang Tuhan Yesus anugerahkan kepada kita adalah mengembalikan kita ke Taman Eden – bukan hanya sekedar bernostalgia – kepada hakekat dan tujuan penciptaan. Dengan demikian perintah-perintah Tuhan Yesus untuk melanjutkan dan menjalankan misi-Nya di bumi ini – termasuk Amanat Agung Tuhan Yesus – adalah bagian dari pemulihan ingatan kita terhadap tujuan penciptaan yang sudah terlupakan ketika kita jatuh ke dalam dosa. Untuk itu alasan utama kita untuk menjalakan misi Tuhan di bumi ini adalah untuk menggenapkan tujuan penciptaan. Konsekuensinya adalah ketika kita tidak menjalankan misi Tuhan, kita sedang keluar dari tujuan Allah menciptakan kita dan dengan demikian keluar dari rencana Allah bahkan keluar dari Allah. Maka marilah kita kembali kepada tujuan kita diciptakan atau kembali kepada Allah dengan menjalankan misi Tuhan di bumi ini.

Tuesday, April 10, 2007

Segera Dan Pasti

Wahyu 22

“ Ia yang memberi kesaksian tentang semuanya ini, berfirman: "Ya, Aku datang segera!" Amin, datanglah, Tuhan Yesus!” (Why. 22:20)

Adakah sesuatu yang pasti di dunia ini? Jawabnya tidak ada. Siapa yang bisa memastikan besok akan hujan. Bahkan ketika melihat langit mendung pun tidak ada yang bisa memastikan 100 % akan hujan. Siapa yang bisa memastikan besok ia masih bisa bangun dari tidurnya. Tidak ada seorang pun yang bisa memastikan bahwa besok ia masih hidup. Segala sesuatu tidak ada yang pasti. Hanya satu yang pasti, yaitu bahwa tidak ada yang pasti di dunia ini. Demikian juga dengan kedatangan Tuhan Yesus, tidak ada sesorang pun yang bisa memastikan kapan waktu kedatangan-Nya yang kedua. Hanya satu yang pasti bahwa Ia akan datang dengan segera.

Di satu sisi Alkitab menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang tahu dengan pasti kapan Tuhan Yesus datang kedua kali. Termasuk di dalam Why. 22 ini, hanya dikatakan bahwa Ia akan datang segera. Namun, walaupun tidak ada yang tahu kapan Tuhan Yesus datang, ini bukan berarti bahwa kedatangan Tuhan Yesus yang kedua juga tidak pasti. Alkitab menjelaskan bahwa Ia pasti akan datang, hanya saja tidak ada yang tahu kapan waktunya. Dengan jelas sekali Tuhan Yesus yang mengatakan bahwa Ia pasti datang dan hal ini dituguhkan dengan kata amin dalam ay. 20 yang artinya sungguh benar, pasti, bukan bohong. Inilah yang menjadi pengharapan bagi para penerima surat Wahyu ini dan bagi kita saat ini, yaitu bahwa Tuhan Yesus akan datang kembali dan mengangkat kita untuk hidup bersama dengan-Nya. Kalau Tuhan Yesus pasti datang dan kalau kedatangan-Nya itu tidak ada yang tahu kapan waktunya, lalu apa yang harus kita lakukan. Ay. 7 mengatakan, ”... Berbahagialah orang yang menuruti perkataan-perkataan nubuat kitab ini!” Yang harus kita lakukan ialah melakukan perintahnya, setia mengikuti-Nya dan siap sedia kapan pun Ia datang.

Ingat bahwa yang disebut berbahagia adalah orang yang menuruti perkataan Tuhan, bukan orang yang bisa menghitung, menebak, dan meramalkan kapan Ia akan datang. Usaha untuk menghitung, menebak dan meramal kedatangan Tuhan Yesus adalah sama seperti kata Pengkhotbah, usaha menjaring angin. Untuk itu berhentilah menghitung, menebak, meramalkan, bahkan bertanya kapan Tuhan Yesus datang. Namun, teruslah melakukan firman-Nya, bertahan dalam penderitaan dan setia sampai akhir, sehingga ketika Ia datang, Ia menemukan kita setia adanya.

Karena itu ... berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! (1 Kor. 15:58).

Wednesday, April 4, 2007

Akhirnya ...!!!

Wahyu 21

“Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: "Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.” (Why. 21:3)

Setelah membaca Why. 21 ini, mungkin sebagian kita akan menghela nafas dan berkata, ”akhirnya ...!!!” Hampir sama dengan apa yang sering kita ungkapkan ketika membaca atau menyaksikan happy ending dari sebuah cerita atau film. Ketika pemeran antagonis (peran yang jahat) kalah dan ketika akhirnya pemeran utama menang, atau mungkin bahagia bersama kekasihnya, saat itulah kita berkata, ”akhirnya ...!!!” Acapkali tidak ada kata lain untuk mengekspresikan dan menggambarkan sebuah happy ending selain kata, ”akhirnya”. Lalu apa yang ”akhirnya” ketika kita membaca Why. 21 ini?

Pertama, akhirnya langit yang baru dan bumi yang baru menjadi nyata. Langit yang baru dan bumi yang baru adalah tempat terakhir, tempat kekal yang menjadi penantian orang Kristen. Tempat di mana orang percaya akan bersekutu dengan Allah untuk selama-lamanya. Kedua, akhirnya penderitaan kita berakhir. Dalam ay. 4 dikatakan bahwa Ia akan menghapus segala air mata, maut tidak ada lagi, perkabungan, ratap tangis dan dukacita tidak ada lagi. Tidak ada penderitaan lagi untuk selama-lamanya. Ketiga, akhirnya kita menang. Peperangan rohani yang terjadi antara kita dengan iblis akhirnya dimenangkan oleh orang-orang percaya. Ay. 7 mengatakan, ”Barang siapa menang, ia akan memperoleh semuanya ini ...” ini adalah jaminan kemenangan bagi orang percaya. Keempat, akhirnya Kristus menebus kita dengan sempurna. Walaupun Kristus telah menebus kita ketika Ia mati di atas kayu salib, namun penebusan yang sempurna terjadi pada langit yang baru dan bumi yang baru, ketika Ia menjadi Allah kita dan kita menjadi anak-Nya.

Kelima, akhirnya iblis dan para pengikutnya mendapatkan hukuman kekal. Dalam ay. 8 dikatakan bahwa mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang. Konsep terpenting dari neraka dalah keterpisahan dari persekutuan yang intim dengan Allah selama-lamanya. Keenam, akhirnya marilah kita setia dan jangan goyah ketika hari ini kita mengalami tantangan, pencobaan, penderitaan, karena pada akhirnya semua itu akan terhapus oleh kebahagiaan sorgawi yang Tuhan janjikan kepada kita. Setialah sampai waktunya tiba! Ketujuh, akhirnya ... akhirnya ... dan akhirnya ...!!! Saya pun tidak dapat berkata-kata lagi.

Akhir dari orang percaya adalah kehidupan kekal, sedangkan akhir dari orang yang tidak percaya adalah kematian kekal.

Tuesday, April 3, 2007

Masa Damai Seribu Tahun

Wahyu 20

“Lalu aku melihat takhta-takhta dan orang-orang yang duduk di atasnya; kepada mereka diserahkan kuasa untuk menghakimi. Aku juga melihat jiwa-jiwa mereka, yang telah dipenggal kepalanya karena kesaksian tentang Yesus dan karena firman Allah; yang tidak menyembah binatang itu dan patungnya dan yang tidak juga menerima tandanya pada dahi dan tangan mereka; dan mereka hidup kembali dan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Kristus untuk masa seribu tahun.” (Why. 20:4)

Kalau kita mencermati alur dari kitab Wahyu, kita melihat seolah-olah iblis menang dan orang-orang percaya kalah oleh penderitaan dan penganiayaan yang mereka alami. Bahkan orang-orang percaya ketika melihat kehidupan mereka tertindas, mereka mulai bertanya di manakah Allah? Masihkah Allah bertakhta dan berkuasa? Yang nyaris sempurna bukan hanya kuasa iblis, tetapi penderitaan orang Kristen juga sepertinya nyaris sempurna. Namun satu hal yang pasti bahwa semua itu sifatnya hanya sementara, tidak untuk selamanya. Kuasa iblis yang nyaris sempurna hanyalah sementara, demikian juga penderitaan orang Kristen yang nyaris sempurna hanyalah semestara. Akan datang waktunya di mana umat Allah akan merasakan damai dengan Allah.

Penglihatan tentang masa seribu tahun dalam pasal 20 ini menunjukkan bahwa iblis sesungguhnya tidak berdaya untuk menghancurkan umat Allah. Beberapa lukisan yang menunjukkan bahwa kuasa iblis, walaupun ada, tetapi sudah dibatasi. Hal ini digambarkan dengan diikatnya iblis dan dilemparkan ke dalam jurang maut. Dalam bahasa lain iblis telah dibatasi kuasanya dan dibuat menjadi tidak efektif. Penggambaran ini menunjuk pada kebangkitan Yesus, yaitu satu peristiwa ketika Yesus mengalahkan maut. Walaupun iblis masih bisa mengganggu orang percaya, tetapi ia tidak punya kuasa untuk menghacurkannya, karena Kristus telah membatasi kuasanya. Dengan demikian masa damai seribu tahun itu adalah ketika Kristus memerintah atas umat-Nya dan ketika umatnya ada dalam masa damai walaupun ada penderitaan dan penganiayaan.

Apa hubungannya denganku? Mungkin demikian komentar kita ketika membaca penglihatan ini. Jawabannya, sangat berhubungan dan sangat terkait dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen. Pertama, penderitaan yang kita alami karena iman kita sebagai orang Kristen hanyalah sementara. Kedua, ada jaminan dari Allah dia akan memberikan damai bahkan ketika kita masih dalam penderitaan. Ketiga, jangan lengah, tetap setia melakukan kehendak Allah sampai waktunya tiba karena kebahagiaan yang dijanjikan oleh Allah jauh lebih besar dari penderitaan yang kita alami sekarang.

Kebahagiaan yang dijanjikan Allah kepada kita bahkan sudah terjadi dalam penderitaan kita.

Monday, April 2, 2007

Undangan Sorgawi

Wahyu 19

“Lalu ia berkata kepadaku: "Tuliskanlah: Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba." Katanya lagi kepadaku: "Perkataan ini adalah benar, perkataan-perkataan dari Allah.” (Why. 19:9)

Jika Saudara mengadakan pesta pernikahan, kira-kira siapa yang akan Saudara undang? Jawabannya sudah pasti adalah para kerabat, teman atau paling tidak orang yang Saudara kenal. Saya yakin jarang bahkan tidak mungkin Saudara akan mengundang orang yang tidak Saudara kenal. Demikian juga dalam perjamuan kawin Anak Domba, yaitu simbol pertemuan Allah dengan umat-Nya, setiap orang yang berkenan kepadanya, yang Tuhan ”kenal” akan diundang dalam perjamuan tersebut. Pertanyaan buat kita adalah apakah kita termasuk yang diudang dalam pesta sorgawi tersebut?

Penglihatan dalam pasal 19 ini memperlihatkan kebahagiaan sorga sebagai perjamuan besar, yang kepadanya orang-orang percaya pun diundang. Perkawinan Anak Domba ini sebagai lukisan yang indah dan paling intim tentang persatuan antara Allah dan umat-Nya. Ini adalah persatuan yang sempurna antara Kristus dan umat-Nya. Hal ini juga yang menjadi penghiburan bagi orang percaya dalam penderitaan yang mereka hadapi karena iman mereka, yaitu kelak mereka akan bersekutu dengan Allah. Dalam ay. 9 dikatakan, ”Berbahagialah mereka yang diundang ke dalam perjamuan kawin Anak Domba ...” Perkataan ini mengindikasikan bahwa ada yang tidak akan mendapatkan undangan, yaitu mereka yang mengikuti sang iblis, barangkali mereka yang memakai tanda 666. Mendapatkan undangan sorgawi ini adalah satu kebahagiaan terbesar dan itu hanya diberikan kepada mereka yang setia, yaitu yang berpakaian lenan halus (orang-orang percaya yang tidak tercemar oleh penyesatan iblis). Termasukkah kita di dalamnya?

Termasuk dalam kelompok manakah kita? Dalam kelompok orang-orang yang diundang atau tidak diundang? Jawabannya ada pada Saudara. Jika Saudara setia kepada Tuhan dan tidak terjerumus oleh tawaran iblis yang seolah-olah manjanjikan dan tidak terkecoh dengan kekuatan iblis yang nyaris sempurna – tetapi tidak sempurna – yakinlah bahwa Saudara termasuk dalam kelompok orang-orang yang akan diundang. Tetapi jika yang terjadi sebaliknya, sekali lagi, satu kata untuk Saudara, ”Bertobatlah ...!!!” Jangan tunda; sekaranglah waktunya, selagi ada kesempatan untuk mendapatkan undangan sorgawi itu dan berbahagia bersama dalam persekutuan yang intim dengan Allah.

Dapatkanlah undangan Sorgawi sebelum segala sesuatu berubah menjadi kekekalan yang tidak dapat diubah .